Halaman Muka

Minggu, 09 Juni 2013

Good Boss


Source : santabanta.com
Beberapa waktu lalu saya mendapat telepon dari rekan kerja yang dahulu sempat berada dalam satu team yang sama. Dia bercerita panjang lebar tentang peluang, tantangan dan mencoba bertukar pikiran tentang beberapa hal. Dalam pembicaraan tersebut, setelah mencoba untuk memberikan beberapa alternatif way out atas "peluang" yang ada, Saya menyempatkan untuk memberikan saran agar terlebih dahulu mendiskusikan beberapa hal tersebut di atas pada atasan langsungnya. Namun, jawaban yang Saya dapatkan agak cukup mengerutkan kening di dahi. Rekan tersebut menjelaskan panjang lebar tentang "atasannya" yang sekarang. Intinya adalah ada komunikasi dan chemistry yang belum connect. Kejadian tersebut, menginspirasi untuk membuat tulisan kecil yang mudah-mudahan dapat bermanfaat dan menjadi salah satu dari sekian banyak wacana dalam memecahkan kebuntuan atas peristiwa tersebut di atas.


Menurut Dr. A.J. Schuler, presiden Schuler Solutions, sebuah firma konsultan pengembangan kepemimpinan dan perubahan organisasional di Alexandria, tantangan terbesar yang dihadapi seseorang untuk menjadi boss yang baik adalah belajar membiasakan diri terhadap otoritas, terutama jika otoritas itu merupakan sesuatu yang baru. Berikut ini adalah lima tips yang diberikan Schuler tentang bagaimana menjadi boss yang baik:

Keramahan dan otoritas
Sangat penting bagi Anda untuk menemukan keseimbangan dalam menjalankan gaya manajemen yang tidak terlalu keras, tapi juga tidak terlalu lembek. Jika memimpin dengan gaya terlalu keras, karyawan bisa membenci Anda karena bersikap seperti diktator layaknya Miranda Priestly. Sebagai atasan, Anda perlu menjadi seseorang yang disukai dan bisa didekati, namun juga dihormati perintah dan tuntutannya.

Keunikan karyawan
Menjadi boss yang baik berarti Anda mampu mengembangkan keterampilan berkomunikasi yang cerdas dan tajam serta belajar bagaimana cara mengukur tabiat masing-masing karyawan. ''Anda harus menciptakan pemahaman individu mengenai bagaimana cara memotivasi setiap karyawan,'' saran Schuler. Boss yang baik mampu menemukan jawaban dari setiap pertanyaan ini dengan menjalin kontak yang cukup dekat dengan para karyawannya, melalui dialog terbuka.

Dapat diakses
Banyak atasan yang terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri sehingga mengabaikan karyawannya. Atasan yang baik, di sisi lain, menciptakan kesempatan untuk membuka percakapan dengan orang-orang di sekelilingnya. Sebagai seorang boss, pastikan Anda berbicara dengan para karyawan dan mendengarkan secara aktif.

Pendelegasian tugas
Kemungkinan besar Anda terpilih menjadi boss karena memiliki keterampilan dan potensi meraih kesuksesan dalam jangka panjang bagi perusahaan. Akan tetapi, kesuksesan tersebut tidak akan mampu tercapai jika Anda tidak mampu memercayai karyawan melakukan pekerjaan tanpa campur tangan Anda secara mendetail. Boss yang baik memahami dan menghargai nilai pendelegasian tugas. Latih karyawan Anda untuk mengambil alih detail, bantu mereka meraih sukses, dan biarkan mereka melakukan pekerjaannnya selagi Anda berupaya memajukan perusahaan.

Menemukan mentor
Seorang boss pun tetap memerlukan mentor. Setiap orang, mulai dari karyawan tingkat pemula sampai kepala perusahaan memerlukan seorang mentor sebagai tempat meminta saran. 


Salah seorang "guru" penulis sempat menyampaikan pesan yang cukup berkesan mendalam, Beliau berpesan: 

"... Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar tanggung jawab dan amanah yang nanti akan diminta pertanggung jawabannya. Dan menjadi pemimpin itu adalah melayani apa yang dipimpinnya, meski tidak dapat membahagiakan semuanya..." 

Dan  sebagai penutup, mari Kita simak beberapa clip berikut :



Are You Leader ?

Building A Team

Leadership 

Source:


Posting Komentar
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...