Halaman Muka

Minggu, 07 Juli 2013

Membuka Hati, Membuka Diri

By Dadang Kadarusman

Bukalah pintu hatimu. Begitu anda mengatakan jika menginginkan seseorang menerima kehadiran diri anda. Ini benar bukan hanya dalam konteks membangun sebuah hubungan. Juga benar dalam konteks bagaimana kita bersedia membuka hati kepada sebuah nasihat, masukkan, dan kritikan yang ditujukan kepada kita. Jujur saja, kita tidak terlalu suka mendengar nasihat. Sehingga kita kehilangan pelajaran yang dikandungnya. Kita enggan mendengarkan masukan. Sehingga kita tidak melakukan perbaikan. Kita juga alergi dengan kritikan. Sehingga kita terkungkung oleh kepicikan. Pendek kata, kita menutup diri dengan cara menutup pintu hati kita dari semua yang datang dari luar.
Beberapa waktu yang lalu, saya meminta tolong tukang bangunan memperbaiki bagian rumah yang bocor. Lalu, jadilah pasir, semen dan kerikil diaduk-aduk sang tukang diatas sebidang tanah. Sejak saat itu, sisa-sisa adukan mengeras dan melapisi tanah itu. Dimusim hujan, tanah itu digenangi air. Dan dimusim kemarau, tanah itu menjadi bagian yang paling kerontang. Ketika hujan turun, tanah itu tidak bisa ditembus air. Sehingga air meluber kesekelilingnya. Permukaan tanah terbuka disampingnyalah yang menampung dan menyerap air itu; masuk meresap kedalamnya. Beberapa bulan kemudian, tanah disekitarnya ditumbuhi rerumputan. Semakin lama, semakin menghijau. Bahkan bunga warna-warni bermunculan. Sedangkan ditanah yang tertutupi sisa adukan itu, tidak tumbuh apapun. Meski yang lainnya tumbuh hijau dan hidup, bagian tanah yang satu itu tetap seakan tak bernyawa. Dibagian itu, yang ada hanyalah kebekuan yang membisu. 

Hati kita. Kira-kira seperti tanah. Dan air hujan adalah hikmah. Tidak peduli seberapa banyak kalimat-kalimat kebijaksanaan diperdengarkan. Tak jadi soal seberapa sering orang-orang menasihatkan. Dengan hati yang membatu seperti itu; kita tetap saja tidak dapat menerimanya. Sebab, kita lebih suka menolaknya. Mendebatnya. Dan menyangkalnya. Hati kita kering kerontang dan gersang. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika kita lebih suka bertindak sesuka hati saja. Menutup diri dari kemungkinan bahwa diluar sana, ada cara hidup lain yang lebih baik dari yang selama ini kita anut. Kadang-kadang, logika kita sependapat dengan masukan dari luar. Kita mengerti secara intelektual. Tetapi, karena hati kita ditutup rapat-rapat, kita tetap saja tidak bisa menerimanya. Makanya, tidak heran kalau kita sering mengatakan; "...Iya sih, tapi…."  Logika kita menerima konsepsinya. Tetapi, hati kita menolak maknanya.
Kadang, penolakan itu terjadi hanya karena nasihat itu datang bukan dari orang yang kita anggap pantas. Kita menganggap diri ini lebih tahu dari si penyampai berita. Kadang, juga karena kita iri kepada orang itu. Dan kadang, kita memang terlampau egois untuk bisa menerima nasihat apapun. Seakan diri ini sudah terlampau sempurna untuk sekedar berubah. ".....Inilah gue apa adanya. Kalau enggak suka, ya pergi saja !..."
Kita sering menemukan orang yang begitu kebal terhadap masukan. Sehingga apapun yang dikatakan kepadanya; tidak membekas. Teman saya, seorang eksekutif muda. Ketika ia menyampaikan sebuah masukan kepada staf yang merasa dirinya sangat hebat, orang itu berkata; "...Memangnya kamu tahu apa tentang pekerjaan ini? Saya sudah belasan tahun mengerjakannya. Sedangkan kamu? Tiba-tiba saja menjadi atasan saya. Saya menuruti kamu hanya karena perusahaan telah salah memilihmu menjadi atasan saya !..."
Mungkin anda juga pernah menemukan orang yang menyangkal saat diajak melakukan perbaikan. Mereka bilang; "...Saya tidak mengerti, kenapa sih orang-orang itu mau mengatur hidup saya? Hidup saya ya milik saya. Mereka tidak berhak mengaturnya !..." Ada juga yang berkata; "...Maunya orang-orang itu apa? Saya tidak mengganggu mereka. Kenapa mereka begitu usil pada apa yang saya lakukan ?..."
Ternyata, orang-orang seperti itu banyak jumlahnya. Hanya cara dan gayanya saja yang berbeda. Tetapi intinya sama. Dan jangan-jangan…., kita juga demikian. Kita tidak sungguh-sungguh membuka hati untuk nasihat-nasihat yang baik. Kita tidak suka orang mengatakannya kepada kita. Dianggap angin lalu saja. Ketika kabar positif tiada henti terlontar mengisi seantero udara yang kita hirup. Seharusnya itu bisa membuat kita berpikir positif. Bersikap optimistik. Dan berubah menjadi lebih baik. Tetapi, hati kita yang terlanjur kaku ini tidak dapat menerima nasihat itu. Jadi, sebaik apapun kata-kata bijak yang sampai ketelinga kita; pasti akan tertolak. Persis seperti air hujan yang menimpa tanah berlapis semen sisa adukan dihalaman belakang rumah saya. Tak setetes pun yang bisa meresap. Nasihat itu sekedar lewat. Tiada terserap. Meluber kesana kemari. Jika hujan lebat memaksa turun terus-menerus, dia tetap tidak mau menyerapnya; mendingan banjir saja. Maka, hujan hikmah itupun tergenang sia-sia. Dia tidak dapat menyuburkan hati yang gersang itu. Hati yang kering kerontang ditengah guyuran kalimat-kalimat hikmah….
Tanah gembur disekitarnyalah yang dapat menerima air itu sehingga dia menjadi semakin subur. Hati orang-orang disekitar kita yang terbukalah yang akan mendengarkan nasihat-nasihat itu. Hingga mereka menjadi manusia-manusia yang semakin hari semakin membaik. Sedangkan kita dengan hati yang kaku, membeku dan tertutup ini; tidak mendapatkan apapun selain kepicikan pikiran dan perasaan saja.
Beberapa bulan setelah tukang bangunan selesai mengaduk semen. Halaman belakang rumah saya yang luasnya hanya beberapa meter persegi itu, telah kembali hijau. Beberapa jenis tanaman berbunga disana. Rumput halus datar terhampar seperti karpet. Semuanya terlihat hijau. Kecuali dibagian yang tertutup bekas adukan itu. Dia tetap botak. Sungguh, tidak elok dia punya tampak. Air yang disiramkan diatasnya telah dia tolak. Hingga tanaman liarpun tak sudi untuk tumbuh menetap.
Sebuah cangkul kecil saya ayunkan berulang-ulang. Mencongkel dan mendongkel. Hingga akhirnya, seluruh lapisan sisa semen yang menutupi tanah itu terangkat. Sekarang, tampaklah permukaan tanah itu berwarna kecoklatan. Merana setelah sekian lama dia terkucilkan. Terisolasi dari air hujan yang menyuburkan. Tak tersentuh oleh cacing tanah yang menggemburkan. Tertutupi dari cahaya matahari yang mestinya menjadikan dia penuh berisi nutrisi. Kasihan. Sungguh seonggok tanah yang merana. Namun, ketika lapisan semen itu terangkat seluruhnya; seolah hidup, tanah itu memancarkan gairah dalam tatap penuh harap. Saat air tersiram diatasnya, dia menggeliat kegirangan. Lalu dengan segera air itu diserapnya hingga tak lama kemudian tak terlihat apapun lagi kecuali kelembaban. Sekarang, tanah itu telah kembali kepada fitrahnya. Menyerap air yang mengalir diatasnya. Dan dia berubah menjadi tanah yang basah. Namun ramah. Sekarang, ditangan saya ada sejumput bibit rumput. Lalu saya tanam rumput itu diatasnya. Dan dengan sepenuh penerimaan; tanah itu memeluk akar rumput, hingga rumput itu terlihat nyaman berada dalam dekapannya. Setiap kali kami menyiraminya, tanah itu menyambut tetes demi tetesnya. Dan hari ini, kami nyaris tidak ingat lagi, dibagian manakah tukang bangunan itu mengaduk semen. Semuanya tampak sama. Kembali tertutupi oleh rumput yang menghijau.
Hati kita. Kita perlu menolongnya juga. Kita harus mengelupaskan lapisan egoisme yang menutupi seluruh permukaannya. Mumpung dia belum mati kekeringan. Sebab hati yang terlanjur mati, tidaklah mungkin untuk dihidupkan kembali. Hati kita masih hidup. Hanya saja, dia kini tengah menanti kita untuk segera membuka pintunya. Dan mengijinkan nilai-nilai kebajikan memasukinya. Memenuhi setiap relung lorongnya. Dan menggeser kekusutan yang selama ini menguasainya. Membiarkan bisikan-bisikan buruk terusir keluar. Mengelupaskan setiap noda hitam yang menempel disel-selnya. Dan merestui, agar kelapangan mengambil alih kendali didalam hati itu.
Sesaat sejak pintu hati kita kembali terbuka. Kita dengan mudah menerima setiap pesan kebajikan. Dan setelah hati kita terbuka, diri kita juga ikut terbuka. Seperti pada tanah yang kembali terbuka itu, setiap tetumbuhan yang kita tanam dapat hidup dengan subur. Dan seperti itulah pula adanya dengan hati kita. Segalanya akan tumbuh subur, tepat ketika kita bersedia membukanya. Membuka hati. Dan membuka diri. 

Source:

Beberapa artikel terkait :

Dan sebagai pelengkap, mari kita simak beberapa clip berikut :

Don't Quit Poem

Change Your Mind

Elements of Greatness
Posting Komentar
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...