Halaman Muka

Minggu, 28 Juli 2013

Apakah Tangan Diatas Selalu Lebih Baik Dari Yang Dibawah?

by Dadang Kadarusman

Makan......... Itu kebiasaan kita setiap hari. Bahkan kita melakukannya lebih dari satu kali dalam sehari. Tetapi, adakah ˜nilai lebih" dari proses makan yang kita lakukan itu ? Bagi anda yang berkecukupan, fungsi makan bisa ditingkatkan dengan cara ˜memberi makan├ón" kepada orang yang membutuhkan. Dengan begitu anda digelari sebagai sang dermawan. Posisi si pemberi derma selalu berada lebih tinggi daripada si penerima. Sehingga timbul ungkapan; tangan diatas jauh lebih baik daripada yang dibawah. Oleh karenanya pula, tidak heran kalau kita sering merasa ˜lebih mulia" setiap kali memberi. Bahkan, ketika menyerahkan pemberian itu pun tidak jarang wajah kita mendongak keatas. Pertanda kemuliaan kita – rasanya – lebih tinggi dari si fakir itu. Karena melalui ungkapan itu kita meletakkan posisi sang penerima derma ditempat terbawah. Memang; ˜Tangan diatas jauh lebih baik daripada yang dibawah"

Ada sebuah model lain yang saya temukan. Model dimana posisi sang pemberi dan sang penerima itu sama. Sederajat. Tanpa sekat. Tidak berbeda martabat. Ketika itu, saya dalam perjalanan untuk berkunjung ke rumah salah seorang famili kami. Tiba-tiba saja perut saya keroncongan. "...Aku pengen makan ketoprak nih....", Saya bilang. Kemudian, istri saya yang duduk disebelah kiri bertugas untuk melihat-lihat; siapa tahu disepanjang jalan yang kami lalui ada gerobak penjual ketoprak. Makanan favorit saya. Tak lama kemudian, kami menemukan gerobak penjual makanan. Tidak hanya satu gerobak, melainkan dua. Yang satu gerobak ketoprak. Dan yang satu lagi, mie ayam. Anda boleh berpikir; ˜ngapain sih kok yang beginian aja diomongin? Bukankah gerobak mie ayam dan ketoprak sudah biasa saling berdampingan?". Memang betul. Itu pemandangan yang biasa kita temukan. Tetapi, yang menjadikannya begitu luar biasa adalah moment ketika tengah berlangsung adegan pertukaran makanan diantara kedua penjualnya. Tukang ketoprak menyediakan sepiring penuh ketoprak dan menyerahkannya kepada tukang mie ayam. Sedangkan, tukang mie ayam menyajikan semangkuk mie ayam untuk disantap si penjual ketoprak….
Pernah menyaksikan adegan itu ? Bagi saya, itu bukan adegan yang biasa. Ketika seseorang bersedia menyerahkan sesuatu yang dimilikinya bagi orang lain, dan tindakan itu berlangsung secara dua arah; maka saya kira, kita sudah mencapai nilai kemanusiaan kita yang paling tinggi. Coba perhatikan, bagaimana mereka meletakkan diri mereka sendiri relatif terhadap orang lain. Meskipun mereka berada pada posisi sebagai sang pemberi derma, namun mereka sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda keangkuhan yang sering menempel dalam diri kita setiap kali kita menyodorkan pemberian kepada orang lain. Mereka tetap berada dalam kesetaraan.
Anda boleh saja mengatakan bahwa mereka bisa begitu karena ketika si tukang ketoprak memberikan ketopraknya, dia juga akan menerima mie ayam dari temannya. Anda benar. Tetapi, bukankah itu merupakan isyarat bagi kita untuk terbebas dari distorsi tangan yang diatas lebih baik daripada yang dibawah? Anda boleh protes; "...Gue kan kalau ngasih kagak dapat imbalan apa-apa dari dia. Ya wajar donkszt, kalau dia berhutang budi sama gue! Toh gue memberi sama dia bukan mengharapkan imbalan apapun dari dia. Apa sih yang bisa dia lakukan buat gue? Nothing...!...."
Source : mahbubikhsan blogspot com
Anda benar lagi. Mungkin, dia tidak akan bisa membalas budi anda. Bagaimanapun juga caranya. Tidak mungkin. Lagipula, anda tidak membutuhkan apa-apa dari dia. Tetapi, tidakkah anda meyakini bahwa untuk setiap kebaikan yang anda lakukan; Tuhan akan selalu menyediakan balasannya? Seandainya kepada anda dikatakan: Tuhan tidak akan membalas kebaikan apapun yang anda lakukan kepada orang lain; apakah anda masih bersedia melakukannya? See? Ada trade-off disitu. Dan anda melakukannya untuk trade-off, itu. Baiklah, anda boleh berkata: "..gue tidak butuh pahalanya!..." Oh ya? Bukankah ketika anda menolong orang lain, lalu hati anda merasa lega. Anda bahagia. Lalu anda terpicu untuk memberi lebih banyak lagi, kepada lebih banyak orang lagi. Dan hati anda semakin senang. Lalu, anda terpicu lagi, dan anda merasa nyaman dengan suasana hati anda? Sadarkah anda bahwa hati yang tenang itu adalah bayaran kontan yang Tuhan berikan atas kebaikan anda? Jika setelah memberi hati anda menjadi gundah; apakah anda akan melakukannya lagi? Begitulah Tuhan memberi pahala kepada kebaikan anda. Apapun hitungannya, memberi itu, selalu membawa keuntungan bagi sang pemberi. Namun, sekedar perasaan nikmat itu saja bisa menjebak kita kedalam perasaan lebih tinggi dari orang yang menerima kebaikan kita. Well, "...Tangan diatas jauh lebih baik daripada yang dibawah..."
Tapi, itu tidak terjadi pada tukang ketoprak dan mie ayam. Mereka tetap memposisikan diri dan hatinya dalam kesetaraan. Dan ternyata; pertukaran tidak hanya terjadi diantara mereka berdua. Melainkan juga dengan tukang lontong sayur. Tukang gado-gado. Tukang cuanki. Tukang baso. Tukang es buah. Dan dengan tukang-tukang lainnya. Begitulah cara mereka menikmati pengalaman memakan beragam jenis makanan. Tanpa harus terbebani oleh pikiran; bagaimana cara membayarnya.
 Source : flexmedia co id
Dengan cara itu, mereka tidak sekedar berhasil meningkatkan nilai dari sebuah tindakan yang kita sebut sebagai ˜makan". Mereka juga telah secara alami berhasil meningkatkan nilai hidup mereka sendiri. Nilai hidup? Ya, nilai hidup. Masih ingat bahwa manusia ini adalah mahluk sosial? Maka apa yang bisa dilakukannya untuk orang lain itulah yang menentukan nilai hidupnya sendiri. Jika dia tidak berguna bagi orang lain, maka sebagai mahluk sosial dia sudah gagal membawakan fungsinya. Jika begitu, dia tidak menjadi apapun selain perwujudan perilaku para benalu.
Tidak hanya itu; mereka juga telah secara alami berhasil meningkatkan kemuliaan diri mereka sendiri dihadapan Tuhannya. Tuhan? Apa hubungannya dengan Tuhan? Mengapa segala sesuatu yang kita lakukan dalam hidup ini harus selalu dikait-kaitkan dengan Tuhan? Karena Tuhan sudah berjanji untuk memberikan imbalan kepada manusia-manusia yang bersedia memberikan manfaat kepada orang lain. Kepada yang memberi makan orang lapar, Tuhan berjanji untuk tidak membiarkannya kelaparan. Dan janji Tuhan adalah benar. Ketika si Tukang ketoprak menyerahkan ketoprak jatah makan siangnya kepada tukang mie; dia bisa saja kelaparan. Tapi, ternyata tidak. Sebaliknya, malah dia mendapatkan mie ayam tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun. Begitu pula sebaliknya dengan tukang mie ayam. Coba perhatikan. Kedua orang itu saling memberi makan, tanpa harus takut akan kelaparan karenanya.
Kita, jika makan. Ya…, makan saja. Kalaupun ada pahala didalamnya, itu karena kita makan yang baik-baik dari rejeki yang halal. Tetapi, tukang ketoprak dan mie ayam itu; ketika mereka makan, mereka mendapatkan pahala dari Tuhan. Karena, setiap kali mereka tahu bahwa temannya sedang lapar; mereka dengan sukarela memberinya satu porsi dagangannya. Tanpa menghitung berapa temannya itu harus membayar. Tanpa terbersit dihatinya ungkapan Tangan diatas jauh lebih baik daripada yang dibawah. Karena, faktanya memang demikian, bukan?

Source:
dadangkadarusman.com
Posting Komentar
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...