Halaman Muka

Minggu, 07 April 2013

Kepada Siapa Penghargaan Itu Layak Diberikan?


www.aristoiclassical.org
Dalam kehidupan kita, ada banyak orang baik yang bersedia memberikan penghargaan atas kontribusi orang lain. Dalam konteks pekerjaan, ini diwujudkan mulai dari sekedar ucapan terimakasih dari atasan. Bonus dan insentif dari perusahaan. Atau, mungkin namanya disebutkan dan dituliskan dalam sebuah acara atau media yang bergengsi. Tetapi, tidak semua orang mendapatkan penghargaan, meskipun sesungguhnya mereka memiliki andil. Misalnya, jika perusahaan memberikan penghargaan atas kinerja saya, maka sesungguhnya, bukan hanya saya yang layak mendapatkan penghargaan atau pujian itu. Melainkan, semua orang yang turut berkontribusi pada pencapaian itu.

Tidak jarang, ketika sebuah penghargaan diberikan kepada seseorang, kita mendengar beberapa orang lainnya berbicara dibelakang. "....Gue heran, kenapa hanya dia yang dapat penghargaan itu. Padahal yang kerja kan bukan cuma dia…!!!"  Untuk alasan apapun, kalimat itu benar adanya. Sebab, tidak ada seorangpun mahluk dimuka bumi ini yang bisa melakukan segala sesuatu sendirian. Bukan hanya rekan kerja di kantor yang berjasa pada kita, melainkan juga orang-orang yang mungkin sama sekali tidak kita kenali.
Begitu banyak orang yang telah berjasa pada saya, hingga berhasil meraih semua pencapaian ini. Misalnya, ketika saya hendak menghadiri sebuah pertemuan penting. Sebelum berangkat, istri saya menyiapkan pakaian. Tentu saja, pembantu kami yang mencuci dan menyetrikanya terlebih dahulu. Dijalan, tukang tambal ban mengganti ban mobil yang bocor dengan ban serep. Tukang bensin, menyediakan bahan bakar. Sedangkan tukang jualan nasi uduk menyelamatkan saya dan istri, pembantu saya, tukang tambal ban, dan tukang jualan bensin dari bahaya kelaparan. Sementara itu, tanpa petani di pedesaan; tukang nasi uduk itu tidak bisa jualan. Tukang jual pupuk berjasa pada petani. Sopir truk membantu tukang pupuk untuk mengirimkan barang dagangannya. Dan seterusnya. Tiba-tiba saja, saya menyadari bahwa semua orang dimuka bumi ini berkontribusi kepada pencapain-pencapaian saya! Lantas, mengapa yang mendapatkan penghargaan di forum itu hanya saya sendiri ?!
Jika anda berpikir ilustrasi saya itu berlebihan; baiklah, mari kita sedikit menginjak bumi. Mungkin anda pernah merasa begitu berjasa kepada seseorang. Tanpa peran anda dalam organisasi, orang itu pasti tidak bisa menjalankan proyeknya. Pokoknya tanpa anda, orang itu; tidak akan bisa mewujudkan gagasan-gagasannya untuk perusahaan. Faktanya: Anda berjasa pada orang itu. Tapi, kenapa hanya dia yang mendapatkan tepuk tangan? Sedangkan anda? Nama anda disebutpun tidak. Anda dilupakan. Seolah-olah tidak ada peran anda sama sekali didalamnya. Seolah-olah, anda itu diposisikan sebagai si no body. Seolah-olah, anda tidak pernah ada. Bagaimana perasaan anda? Marah?
Tunggu dulu. Itu belum seberapa. Suatu saat anda berdiskusi dengan teman di kantor. Kepada orang itu anda membeberkan sebuah gagasan penting yang bisa menghasilkan keuntungan berlipat ganda bagi perusahaan. Dan anda bilang, gue akan membuat proposal kepada manajemen supaya proyek ini bisa dijalankan. Dan anda juga tahu bahwa; jika proyek itu berhasil, anda akan mendapatkan kenaikan jabatan, atau bonus tambahan. Tapi, apa yang terjadi? Sebelum anda benar-benar mengajukan proposal itu kepada manajemen; teman anda itu melakukannya duluan! Dan gilanya lagi, dia sama sekali tidak mencantumkan nama anda dalam proposal itu. Bahkan, dia mengklaim itu sebagai gagasannya yang brilian! Hah, rasanya anda ingin menendang bokong bajingan itu! Iya, kan?
Pada suatu ketika, seseorang memforward saya sebuah email yang dia dapat dari orang lain; karena seseorang lainnya memforward email itu kepada orang-orang yang lainnya. Semacam email berantailah. Judulnya menarik perhatian saya. Lalu saya buka dan baca. Lho? Ini kan artikel yang saya tulis beberapa waktu lalu? Tapi tampaknya, sekarang kepemilikannya sudah berpindah tangan kepada sang pengirim email. Bukan saya. Saya harus apa? Menulis email yang menyatakan bahwa orang itu telah mencuri artikel saya dan dikirim kepada semua orang? Tidak. Saya tidak mau melakukan itu. Atau,…membuat iklan pengumuman di koran? Tidak. Itu hanya akan menjadikan orang-orang tahu bahwa aslinya saya ini manusia norak. Bagaimana dengan…hmmmh; labrak saja orang itu?! Hah, jangan-jangan badan dia lebih kekar dari saya yang kerempeng ini. Lantas, bagaimana?
Lantas, saya menemukan sebuah penyadaran bahwa itu bukan artikel saya. Melainkan milik Tuhan. Sedangkan saya hanyalah tukang ketik yang dipilih Tuhan untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan yang bisa dibaca orang. Lantas, jika gagasan dalam artikel itu milik Tuhan; mengapa saya harus marah kepada orang yang dipilih Tuhan untuk menyebarkan artikel itu kepada orang lain sehingga mereka mendapatkan manfaat dari gagasan positif yang dikandungnya? Tuhanlah yang berhak mengklaim nilai artikel itu. Bukan saya. Jadi, saya biarkan saja Tuhan berbuat sesuka hati atas artikel itu.
Lantas, saya dapat apa? Hah, pertanyaan macam apa itu? Saya dapat apa. Itu adalah bibit sebuah sifat yang kita sebut sebagai pamrih. Tidak selamanya salah. Tetapi, tidak selalu betul. Dalam konteks bekerja, lalu mendapat upah. Atau memberi pelayanan, lalu mendapatkan bayaran. Atau menjual barang, lalu menerima sejumlah uang. Hal itu bisa dimengerti. Tetapi, jika kita masih bertanya; "..apa yang akan saya dapatkan jika saya berbuat kebaikan mungkin kita perlu lebih banyak merenung..."
Lagi pula, bukankah Tuhan tidak pernah salah hitung? Jika Tuhan merasa perlu untuk memberikan penghargaan, maka penghargaan itu akan sampai kepada orang yang berhak menerimanya. Dan untuk itu; Tuhan tidak pernah keliru. Berbeda dengan kita para manusia. Mata kita kadang silap. Mengira si A yang berjasa, padahal si B-lah orangnya. Mengira si X yang memiliki gagasan, padahal si Y-lah yang kepalanya bermuatan. Jadi, ketika kita memberikan pujian kepada si A atau si X, bukan saja telah salah alamat; melainkan juga bertindak tidak adil. Meskipun tidak disengaja. Tetapi, siapa sih yang bisa benar-benar adil dimuka bumi ini? Hanya Tuhan yang bisa begitu, bukan? Sebab, perbuatan apapun yang kita lakukan, pasti ada hitung-hitungannya. Dan Tuhan, tidak pernah sembarangan melakukannya.
Bukan hanya orang lain yang kurang menghargai kontribusi dan jerih payah kita. Bisa jadi kita juga begitu. Setidaknya, kita juga pernah melupakan kebaikan dan jasa orang lain. Meskipun mungkin kita tidak bermaksud begitu. Betapa banyak orang yang berbicara di podium kehormatan, kemudian mengucapkan terimakasih kepada teman-temannya di organisasi. Orang yang tahu diri ini sudah berusaha sebisanya untuk mengapresiasi kebaikan semua; dengan menyebutkan nama mereka satu demi satu. Ketika mengakhiri pidatonya yang tulus itu, dia tidak sadar bahwa ada satu temannya yang dia lupa menyebut namanya. Dia tidak sadar. Ratusan orang di ruangan itu juga tidak sadar. Sama sekali tidak ada yang menyadari hal itu, kecuali satu orang saja. Anda tahu siapa orang itu? Dia adalah sang pemilik nama itu. Hatinya berdegup kencang ketika mendengar orang baik itu menyebut nama sahabat-sahabatnya satu demi satu. Namun, ketika sampai akhir pidato nama dirinya tidak pernah disebut; ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. "....Kok bisa sih, dia melupakan saya……"
Percayalah, itu bisa terjadi kepada setiap orang. Kepada saya juga, tentu saja. Ada kalanya orang lupa pada kontribusi kita. Namun, pada kesempatan lain, kitalah yang melupakan jasa-jasa mereka. Tetapi, Tuhan. Pasti tidak akan pernah lupa. Karena untuk setiap kebaikan yang kita lakukan bagi umat manusia. Meskipun sangat kecil sekali. Tuhan akan mencatatkannya dengan teramat sempurna. Dan, jika kita masih bertanya: apa yang akan saya dapatkan dari kebaikan yang saya lakukan?. Maka, marilah kita menghibur diri dengan sebuah keniscayaan, bahwa; energi itu abadi. Energi yang terpancar dari dalam diri kita, akan selalu menjadi milik kita. Hanya saja, kita mesti belajar bersabar untuk bertemu kembali dengan energi itu; kelak. Pada saat kita berhadapan dengan Sang Maha Menilai. Yaitu saat dimana, semua perbuatan kita diperhitungkan. Dan dipertanggungjawabkan. Sekecil apapun itu.

Source :
dadangkadarusman.com
Posting Komentar
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...