Halaman Muka

Senin, 23 Maret 2015

Workaholic: Dapat Merusak Karir Anda?

Netty Delima, EXPERD Consultant
Dalam era yang semakin kompetitif ini, banyak yang menempatkan pekerjaan sebagai hal yang terpenting dalam kehidupan. Seperti yang dialami oleh Sinta (28), seorang karyawati di sebuah perusahaan multinasional terkemuka. Ia memulai karirnya dari entry level tiga tahun yang lalu. Baru seminggu ini ia diangkat sebagai supervisor yang memiliki beberapa anakbuah. Prestasi yang dicapainya ini tentu saja ia peroleh dengan kerja keras, karena persaingan yang cukup tinggi dengan karyawan lainnya. 

Selain merasa bangga, ia juga semakin terpacu untuk memberikan performance yang lebih memuaskan. Kalau biasanya ia masih dapat menikmati akhir minggu dengan jalan-jalan di mal, kumpul-kumpul dengan keluarga atau olahraga, kini ia rela untuk lembur di kantor. Malam minggu ia habiskan untuk menyelesaikan tugas-tugas kantor, dan tidak jarang pula ia membawa sebagian pekerjaannya ke rumah. Dengan tugas dan tanggung jawab yang semakin banyak, ia sering merasa kekurangan waktu untuk menyelesaikan tugasnya. Kadang-kadang, saat makan siang pun ia masih tetap memikirkan pekerjaan.

Tanda-tanda Workaholic
Ada banyak pandangan terhadap aktivitas bekerja. Bagi para fresh-graduated, umumnya mereka bekerja untuk menerapkan pengetahuan yang mereka peroleh dibangku kuliah atau mencari pengalaman. Ada pula yang bertujuan untuk mencari nafkah dalam upaya meningkatkan status ekonomi dan sosial. Sementara bagi mereka yang secara ekonomi sudah tergolong mapan, bekerja merupakan suatu aktivitas untuk sekedar mengisi waktu luang.

Sementara itu kondisi yang dialami oleh Sinta, merupakan fenomena workaholic, dimana pekerja mendedikasikan dirinya secara total pada kehidupan karirnya. Mereka biasa bekerja dengan beban kerja yang tinggi dan menghabiskan waktu yang panjang pula. Demi pekerjaan mereka sering mengabaikan aktivitas ataupun tanggung jawab lainnya. Bagi yang belum berkeluarga, mereka tidak lagi terlibat dalam kegiatan atau aktivitas sosial dengan teman-teman sehingga relasi dan kontak sosial semakin terbatas. Orang-orang di lingkungan sulit sekali "meminta" waktu mereka. Mereka sering menolak ikutan acara-acara gaul. Alasannya? Tentu saja karena pekerjaan.

Sementara bagi yang sudah berkeluarga, seringkali "lupa" dengan tanggung jawab sebagai orangtua. Tidak jarang bagi orangtua yang workaholic, kehilangan saat-saat dimana anak-anak mereka tumbuh, sehingga sering muncul perkataan,"..Wah.. anak saya sudah remaja ya.. cepat sekali..." 

Peran orangtua untuk membesarkan anak juga menjadi tidak seimbang, karena lebih mengandalkan pasangannya untuk lebih aktif dibandingkan dirinya. Sementara itu si anak berusaha untuk mencari perhatian orangtua mereka yang lebih mementingkan pekerjaan. Tanpa disadari peran keluarga dalam memberi perhatian diganti dengan kehadiran teman-teman. Kondisi ini lama-lama akan menimbulkan sikap dan rasa tidak peduli pada orangtua mereka. Terhadap pasangan pun, perhatian mereka semakin berkurang sehingga menimbulkan perasaan terabaikan. Tidak sedikit dari mereka merasa kurang dihargai oleh pasangan yang workaholic.

Terhadap kegiatan yang bersifat rekreasi, mereka lihat sebagai pembuangan waktu. Dengan demikian mereka lebih sering menghindari aktivitas tersebut. Kalau pun ada, kegiatan tersebut masih berkaitan dengan pekerjaan mereka. Contohnya mengikuti kegiatan olahraga, tapi topik pembicaraan masih seputar pekerjaan dalam usaha mencari peluang bisnis. Mereka seringkali mengabaikan kesehatan dan aktivitas yang tidak berhubungan dengan pekerjaan mereka.

Kalau dilihat dari hasil kerja yang ditunjukkan, mereka tergolong memiliki komitmen yang tinggi terhadap pekerjaan. Mereka cenderung tidak puas dengan hasil kerja yang biasa-biasa saja. Standar kerja mereka tergolong tinggi dan berusaha keras untuk mencapainya. Kondisi ini dapat pula dipengaruhi oleh lingkungan kerja yang kompetitif dimana kesempatan untuk promosi lebih sulit jika mereka tidak terlihat menonjol. 

Jika diamati secara sepintas, tingkah laku para workaholic tidak jauh berbeda dengan para hardworker. Bahkan sering pula kita memasukkan mereka pada kategori yang sama. Namun apabila dicermati, maka terdapat perbedaan yang jelas diantara keduanya.

Anda tergolong workaholic, jika:
  • Mengutamakan pekerjaan dibandingkan aktivitas lain
  • Rumah adalah "kantor kedua anda
  • Membawa perlengkapan kerja ke mana pun anda pergi, termasuk pada saat berlibur
  • Bekerja dapat membuat anda lebih senang dibandingkan kegiatan lain
  • Waktu tidur dan rekreasi anda jauh berkurang
  • Anda tidak menginginkan hari libur
  • Anda merasa sangat letih, mudah marah dan terasing dengan lingkungan sosial anda
  • Merasakan gejala fisik yang tidak menyenangkan, seperti sakit kepala, insomnia, jantung berdetak dengan cepat, napas lebih pendek dan otot-otot menjadikaku.


Workaholic=Hardworker??
Pekerja yang digolongkan sebagai hardworker memandang pekerjaan sebagai hal yang penting sehingga berusaha untuk memberikan hasil dan kontribusi yang optimal. Namun mereka dapat membatasi keterlibatan diri dengan pekerjaan, sehingga masih memiliki waktu untuk keluarga, teman atau aktivitas rekreasi. Dengan demikian mereka dapat melepaskan diri dari pekerjaan dan memiliki kehidupan lain. 

Sementara seorang workaholic, tidak rela membiarkan diri mereka tanpa bekerja karena akan menimbulkan perasaan tidak berharga dan terasing. Bahkan ada yang merasa aneh pada dirinya dan lingkungan. Pada sebagian workaholic, mereka berusaha untuk menghindari kondisi dimana mereka tidak bekerja. Ini terjadi karena persepsi yang berlebihan terhadap pekerjaan, sebagai satu-satunya hal yang paling dapat memberikan kebanggaan.

Dampak negatifnya
Apabila seseorang sudah terlalu lama tergolong sebagai workaholic, akan menyebabkan ketumpulan pada berbagai aspek kehidupannya. Secara emosional, cenderung cepat marah dan cemas jika performance mereka tidak sesuai dengan dengan harapan mereka. 

Mereka juga kurang peduli terhadap orang lain, sehingga sering mengabaikan kebutuhan dan perasaan orang lain. Bahkan mereka cenderung ingin dipahami oleh orang lain, misalnya tidak dapat bergabung dalam suatu acara karena kesibukan kerja. Atau apabila tiba-tiba mereka menyadari bahwa teman-teman dan keluarga kurang peduli terhadap kehadiran mereka, mereka akan berpikiran, "..Lho...apa salah saya, sih? Sayakhan gak bisa ikut ke kafe karena banyak kerjaan... kok, sekarang temen-temen nyuekin saya?..." Demikian pula secara spiritual, dimana mereka kurang bersedia meluangkan waktu untuk hal-hal kerohanian karena dianggap menyita waktu.

Selain itu, dari segi kesehatan, kemungkinan terkena serangan jantung tergolong tinggi. Mereka berusaha keras untuk mencapai kesuksesan, dan kalau kenaikan gaji dan promosi gak sesuai harapan, mereka cepat mengalami stres dan berdampak pada kondisi kesehatan mereka. Stres yang tinggi juga dapat menyebabkan tekanan darah meningkat, sebagai faktor yang paling beresiko terhadap sakit jantung atau serangan jantung. Stres juga mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, sehingga menjadi lebih rentan terhadap berbagai penyakit. 

Di Jepang, setiap tahunnya 10.000 pekerja didapati tergeletak di meja kerja mereka karena bekerja minimal 60 sampai 70 jam dalam seminggu. Waktu istirahat mereka singkat sekali! Hal ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik saja, tetapi juga kesehatan mental karena mereka mudah mengalami stres yang bersifat kronis. Dengan pikiran yang terbeban dengan pekerjaan, mereka juga mengalami gejala sulit tidur. Jika dibandingkan dengan rekan kerja yang lain, mereka lebih mudah merasa depresi bila mengalami hal-hal yang mengecewakan.

Sampai saat ini masih merupakan kontroversi, apakah workaholic termasuk gangguan psikologis atau tidak. Dalam Journal of Employment Counseling, Robinson E. Bryan menggolongkan workaholic sebagai gangguan kompulsif, yang tidak hanya berdampak negatif pada dirinya tetapi juga keluarga dan lingkungan kerjanya. Namun, psikolog lainnya, Laura S. Struhl berpandangan bahwa workaholic hanyalah topik atau isu psikologis yang biasa terjadi di kalangan pekerja. Sebuah dilema yang muncul untuk menyeimbangkan antara kepentingan karir dan aspek kehidupan personal yang lain.

Segera lakukan perubahan
Terlepas dari setuju atau tidaknya para ahli terhadap penggolongan workaholic sebagai gangguan psikologis, pada kenyataannya fenomena ini lebih banyak memberikan dampak negatif dibandingkan keuntungan yang diperoleh seorang pekerja dan orang-orang di sekitarnya. Pertanyaan selanjutnya adalah, jika anda seorang workaholic, apa yang harus anda lakukan?

Sebelum terlambat,anda bisa coba langkah-langkah berikut:
Ubah mindset anda
Hal yang menonjol bagi workaholic adalah persepsi terhadap aktivitas bekerja sebagai sesuatu yang paling bermakna dalam kehidupan. Coba ubah persepsi anda tersebut dengan mempertimbangkan akibat negatif yang akan anda peroleh. Pikirkan juga hal-hal positif yang akan anda dapatkan jika anda membuat perubahan pada hidup. Misalnya, masukan kegiatan sosial dalam jadwal sehari-hari. Berikan waktu minimal 20 sampai 30 menit untuk ngobrol-ngobrol dengan rekan-rekan di kantor. Bincangkanlah topik-topik yang ringan, misalnya tentang hobi, kencan semalam, atau film-film terbaru. Begitu pula saat anda tiba di rumah, luangkan waktu anda sedikitnya satu jam untuk ber-ha-ha-hi-hi dengan anggota keluarga yang lain.

Sosialisasi
Gaul dengan teman-teman? Boleh dong anda punya waktu khusus dengan teman-teman anda! Weekend ke Bandung, makan bareng-bareng di resto yang belum pernah dikunjungi, olahraga rame-rame ke Senayan atau aktivitas apa saja yang menyenangkan. Jika tidak memungkinkan, kontak telepon atau e-mail juga dapat memberikan suasana yang berbeda. Namun, sekali lagi, jangan bicarakan hal-hal seputar pekerjaan yang membebani pikiran anda.

Buat jadwal kerja
Jangan mengorbankan waktu istirahat di kantor atau waktu tidur anda di rumah dengan pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya. Batasi waktu kerja di kantor selama kurang lebih delapan jam seharinya. Untuk itu anda perlu bekerja dengan sistematis dan teratur. Delegasikan sebagian tugas anda pada staf lain, kalau anda memiliki anakbuah. Dengan demikian anda akan mengerjakan porsi pekerjaan anda lebih optimal. Bagi anda yang bekerja berdasarkan permintaan atau proyek, jangan tergoda untuk mengambil beberapa proyek sekaligus tanpa mempertimbangkan waktu yang anda butuhkan. Nanti anda malah kerepotan dan dapat komplain!

Perhatikan kondisi fisik dan mental
Makan dan olahraga dengan teratur serta tidur yang cukup akan membuat kondisi fisik dan mental jadi lebih sehat. Jika berada di kantor, tidak ada salahnya untuk memejamkan mata beberapa saat atau berjalan ke ruangan lain dapat menyegarkan pikiran anda kembali. Tapi, jangan terlalu lama, nanti pekerjaan anda jadi tertunda! Tentu saja dengan kondisi yang sehat pula, anda dapat menikmati jerih payah anda dengan orang-orang di sekitar anda. 

Jika anda melakukan hal-hal tersebut dengan teratur, maka anda tidak perlu mengorbankan kehidupan sosial dan kepentingan pribadi anda. Yang terpenting adalah anda bisa meniti karir dan tetap memperhatikan diri sendiri serta orang-orang di lingkungan anda.

Dan sebagai penutup, mari kita simak clip berikut :




Source :experd.com


Posting Komentar
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...