Halaman Muka

Minggu, 03 Agustus 2014

Tukang Traktir

by Dadang Kadarusman

Siapa sih yang tidak mau berteman dengan orang yang suka mentraktir? Kayaknya sih, semua orang suka sekali berteman dengan tukang traktir ya. Kita suka kepada orang yang mentraktir minuman di café. Kita suka kepada orang yang mengeluarkan dompet untuk makan siang kita. Tentu kita juga suka sekali kepada orang yang membayari tiket nonton konser. Pokoknya, kalau pergi sama dia; dijamin seru deh. Itulah sebabnya, orang yang suka mentraktir orang lain selalu mempunyai banyak teman, iya kan? Pertanyaannya kemudian adalah; apakah orang yang suka mentraktir kita itu benar-benar mempunyai uang lebih banyak dari kita yang hobby sekali nebeng ini? Coba renungkan sekali lagi; apakah Anda yakin jika orang yang selalu Anda harapkan untuk mentraktir itu punya uang lebih banyak dari Anda?

Harap jangan bertanya siapa namanya dan dimana lokasinya jika saya menceritakan sebuah kisah kecil berikut ini. Karena saya tidak akan mau memberitahu namanya atau indikasi-indikasi lain yang bisa membuat Anda mengenali orang yang saya maksud. Sebut saja teman saya. Baik sekali orangnya. Setiap kali makan bersama orang lain, dia selalu menjadi juru bayarnya. Dari dompetnya sendiri. Selalu begitu. Sehingga setiap orang yang mengenalnya menjulukinya sebagai orang yang paling dermawan sedunia. Tidak peduli tanggal tua atau musim paceklik. Tidak pusing berapa orang teman yang ikut bersamanya. Dia selalu yang membayar makan dan minumnya. Pokoknya, orang ini paling jago kalau urusan mentraktir teman.

Suatu ketika, ada hal yang sangat penting sehingga salah satu sahabatnya mesti datang ke rumahnya. Sengaja tidak memberitahunya dulu, soalnya; kalau memberitahu dulu, kawan kita itu selalu mengajaknya ketemuan dimana gitu. Lalu makan dan minum dia yang bayarin seperti biasanya. Setelah mencari-cari, sahabatnya pun tiba dialamat yang dituju. Namun, dia setengah tidak percaya. Karena ternyata tempat itu tidak seperti dalam bayangannya. Setelah yakin jika alamat itu benar, maka dia pun mengetuk pintu dengan ragu. Dan. Ketika seseorang membuka pintu; keduanya sama-sama terkejut. Tahukah Anda, apa yang membuat mereka terkejut?

Jelas sekali jika sang tuan rumah tidak mengira ada sahabatnya yang datang. Sebuah kedatangan yang tidak diharapkan sebenarnya. Sedangkan sang tamu terkejut karena tidak percaya jika sahabatnya yang terkenal dermawan dan royal itu tinggal di rumah seperti itu. Seperti itu bagaimana? Susah menjelaskannya. Tetapi, rumah itu sama sekali tidak menggambarkan cara penghuninya yang dengan sangat royal dan sering sekali mentraktir orang lain.

Jangan tanya nama dan lokasinya juga ya, jika saya menceritakan kisah lainnya. Kawan yang royal dalam mentraktir juga. Penampilannya selalu seru dan ceria. Sepertinya, dunia ini hanya diisi dengan tawa saja. Ringan banget deh ketika dia mengeluarkan beberapa lembar kertas berwarna merah dengan 5 angka nol dari dompetnya. Gesek kartu jika perlu. Top markotop deh pokoknya.

Tidak sengaja juga. Ketemu dengan seseorang yang entah bagaimana terhubung dengan kawan kita itu. Biasa dong, ngobrol ngalor ngidul “Oh Pak Blablabla….” Begitu kan. “Iya anaknya satu sekolahan sama anak saya.” Katanya. “Istrinya juga teman saya waktu di SMP dulu….” Obrolan pun berlanjut. Sampai akhirnya keluarlah informasi yang tanpa diminta namun menunjukkan betapa kehidupan sebenarnya di rumah kawan itu sama sekali bertolak belakang dengan gaya hidup dan keroyalannya kepada teman-teman diluaran.

Jangan tanya kasus lainnya lagi ya. Cukup 2 itu saja untuk membuat kita yang mupeng banget untuk selalu dibayarin orang ini sadar bahwa; boleh jadi, sebenarnya orang yang selalu mentraktir kita itu lebih membutuhkan dari pada diri kita sendiri. Jika kita sayang kepada teman, sebaiknya mulai sekarang dikurangi deh ngarep ditraktir melulu itu. Karena kita tidak tahu kondisi keuangan yang sebenarnya dari teman kita itu.

Sekarang, coba Anda renungkan kalimat ini. “Habis gimana dong,” katanya. “Kalau gue nggak traktir, nggak ada orang yang mau berteman dengan gue……” Renungkan sekali lagi kalimat itu. Dan bayangkan, seandainya kita ini adalah orang yang menyebabkan seseorang memaksakan diri untuk selalu mentraktir kita, hanya karena dia ingin berteman dengan kita. Betapa buruknya ya, cara kita memilih teman. Dimana nurani kita jika demikian? Baiklah...

Sekarang. Bagaimana seandainya kita yang termasuk tukang traktir itu? Kita yang takut tidak punya teman jika tidak mentraktir. Kita yang khawatir dijauhi oleh orang lain jika tidak mentraktir. Bagaimana jika semua itu adalah gambaran tentang diri kita sendiri?

Sahabatku. Ketahuilah bahwa pertemanan yang terbaik adalah yang datang dari ketulusan. Bukan dari tuntutan atas pemenuhan aspek-aspek material belaka. Maka jika kita hanya mau berteman dengan orang yang suka mentraktir kita. Atau, jika orang lain hanya mau berteman dengan kita hanya karena kita selalu mentraktirnya. Maka, pertemanan kita menjadi sangat rapuh. Boleh juga untuk direnungkan kembali; apakah kita benar-benar hanya mau berteman jika orang lain mau mentraktir? Kan tidak ya? Maka, kemungkinan besar orang lain juga mau kok berteman dengan kita sekalipun kita tidak selalu mentraktir mereka. Iya kan?

Jadi, tidak perlu lagi takut kehilangan teman hanya karena kita tidak lagi royal mentraktir. Memenuhi kebutuhan anak-anak kita, istri atau suami kita, dan keluarga terdekat kita merupakan prioritas nomor satu. Jika kebutuhan dasar keluarga kita sendiri saja masih sering kalang kabut, maka itu pertanda bahwa kita belum layak masuk kedalam kelompok tukang traktir. Jadi, tidak boleh traktir-traktiran nih?

Bukan begitu. Mentraktir sekali-sekali bolehlah. Tetapi, mesti sesuai dengan takaran dan kewajaran. Mengharap orang lain terus mentraktir kita, bukan sikap seorang teman sejati. Khawatir orang lain menjauh karena kita tidak sanggup mentraktir lagi juga bukan ciri pribadi dewasa. Sesekali mentraktir. Dan sesekali ditraktir. Nah, itu keren. Tetap sehat juga untuk dompet masing-masing. Dan juga bisa membuat hubungan pertemanan menjadi semakin baik.

Memangnya nggak boleh mentraktir terus?
Ada dua kondisi dimana mentraktir terus bisa dimaklumi. Pertama, ketika seseorang menjadi tuan rumah atau pihak yang mengundang. Selama kita yang mengundang, ya wajar dong setiap kali orang datang keundangan itu kita yang traktir. Begitu juga sebaliknya. Kita boleh berharap orang yang mengundang mentraktir kita. Kecuali, ada kecualinya nih. Kecuali dia bilang ‘BM ya…’. Alias, Bayar Masing-masing. BYOP kalau orang-orang bule bilang. Bring Your Own Plate. Maksudnya, makanan elo ya elo tanggung sendiri dong. Di kampung saya, BYOP itu diterjemahkan sebagai ‘membawa makanan dari rumah masing-masing untuk pergi piknik dengan orang lain. Lalu kita kumpulkan semua makanan itu. Untuk kemudian disantap bersama-sama.

Kondisi kedua yang wajar jika seseorang terus tampil sebagai tukang traktir adalah; jika orang itu memang sudah jelas-jelas lebih tajir dan lebih mampu dari orang-orang yang selalu ditraktirnya. Misalnya, jika saya pergi makan malam dengan Om saya, ya beliaulah yang membayarnya. Jelas dong. Karena beliau uangnya bejibun. Nggak bakal berkurang hak keluarganya hanya karena mentraktir saya. Dan kalau saya yang memaksa bayar juga beliau bisa tersinggung. Tapi jika saya makan bersama keponakan saya. Maka mesti saya yang selalu bayar. Kecuali dia merayakan gaji pertamanya tentunya.

Gampanglah jika kita atau teman kita berada pada salah satu kondisi diatas itu. Menjadi tuan rumah, atau memang sudah tajir beneran. Tapi. Jika kita atau teman kita itu tidak memiliki salah satu dari kedua kriteria itu, maka sebaiknya kita tidak memaksakan diri untuk selalu memposisikan diri sebagai tukang traktir. Dan kita, tidak boleh terlalu berharap selalu ditraktir. Gantian aja. Atau BM. Cara seperti itu akan lebih menjamin pertemanan kita menjadi lebih tulus. Dan tidak ada hak keluarga di rumah yang – entah disadari atau tidak – sudah teralokasikan kepada sesuatu yang bukan prioritas terpenting.

Source:

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...