Halaman Muka

Minggu, 13 April 2014

Bersediakah Kita Melapangkan Jalan Sang Lawan?


Melapangkan jalan bagi lawan kita. Tidak terdengar seperti gagasan yang cerdas, bukan? Orang yang mempunyai kecanggihan berpikir pasti tahu bahwa melapangkan jalan bagi lawan-lawan kita hanya akan menyebabkan kita kalah dalam persaingan. Kalaupun kita melakukannya, maka harus dipastikan terlebih dahulu bahwa jalan yang kita lapangkan untuk lawan-lawan kita itu menuju ke sebuah jurang kehancuran. Jika jalan itu menuju kepada kejayaan, mengapa mesti dilapangkan untuk sang lawan? Logika berpikir kita seharusnya justru mengatakan untuk menjegal setiap langkah lawan dijalan itu. Kita harus memastikan bahwa jalan menuju kejayaan semacam itu hanya boleh dilewati oleh kita saja. 


Melapangkan jalan bagi lawan kita. Agak terdengar seperti sebuah perumpamaan. Mungkin memang itu tidak lebih dari sekedar kiasan belaka. Bisa iya. Bisa tidak. Secara harfiah bisa berarti melapangkan jalan dalam arti sebenarnya. Kebalikannya, menjegal jalan lawan dalam arti sesungguhnya. Hari senin yang lalu, saya mendapatkan contoh nyata tentang hal ini. Kantor tempat saya bekerja terletak didaerah Semanggi. Daerah three in one dong, ya kan. Setiap mobil yang berpenumpang kurang dari 3 orang, tidak boleh melewati jalur utama dikawasan itu pada jam 07.00-10.00 pagi, dan jam 16.30 -19.00 sore. Untuk masuk atau keluar gedung (Y) pada jam-jam seperti itu, kami harus memutar, dan melintas didepan gedung lain (Z) yang terletak dalam satu komplek. Oleh karena itu, sistem parkirpun dikelola dalam sistem yang sama.
Senin itu, tidak seperti biasanya. Ketika saya melintas didepan gedung Z, saya dicegat Satpam. Dengan heran saya bertanya: "..Ada apa Mas...? Dan dengan ragu-ragu Satpam itu berkata: "..Maaf Pak, Bapak sudah tidak boleh melintasi jalan ini lagi…." Dari caranya berbicara, saya tahu; hati nurani Pak Satpam itu sedang berperang sendirian. Tapi, dia kan hanya menjalankan tugas. Jadi saya dapat memahaminya. Saya tidak ingin bertengkar, toh bukan hanya saya yang diperlakukan seperti itu. Semua pengendara yang melintas didepan gedung Z itu juga diperlakukan sama.
Ketika saya memutar, saya menyadari, bahwa sepanjang jalur yang biasa kami lewati, ternyata sudah dipasang tiang besi yang disemen ke lantai. Wuah, saya pikir; ada apa nih? Saya tidak mendapatkan jawaban apapun hingga pada sore harinya, management gedung Y mengirim surat resmi kepada seluruh penghuni. Intinya meminta maaf bahwa hari ini ada penutupan akses yang biasa kami gunakan. Menurut surat itu, penutupan dilakukan managment gedung Z setelah selama seminggu sebelumnya negosiasi tidak membuahkan kesepakatan positif. Deg! Hati saya berdegup. Ada perselisihan antar management gedung, rupanya. Dan perselisihan itu sampai menutup jalan masuk bagi orang-orang yang perlu lewat.
Dipagi hari, masih ada alternatif jalan memutar untuk masuk ke gedung Y. tetapi, disore hari, sama sekali tidak ada akses, kecuali berhadapan langsung dengan polisi yang menjaga ketat jalur three in one. Karena jalur keluar satu-satunya melewati bagian belakang gedung Z sama sekali tidak bisa dilewati mobil. Alhasil, management gedung Y membongkar pagar hidup meski mesti mengorbankan beberapa pohon menghijau ditumbangkan. Lalu, melalui jalur curam, sempit lagi miring itulah orang-orang bisa melintas. Jika tidak terampil, pengendara bisa tergelincir. Apalagi mobil-mobil besar seperti truk para pemasok barang yang benar-benar harus menanggung resiko terbesar.
Begitulah gambaran harfiah jegal menjegal jalan lawan berlangsung. Gedung-gedung perkantoran paling mahal sekalipun tidak luput dari kejadian semacam itu. Biar pun dihuni oleh perusahaan-perusahaan besar kelas dunia. Bahkan beberapa diantaranya listed dalam Fortune 500. Ada beberapa konsulat negara-negara tetangga juga disana. Hal semacam itu bisa terjadi juga.
Mari sekarang kita lihat makna kiasannya. Dalam bisnis, persaingan tidak jarang diwarnai oleh saling jegal antar kompetitor. Dan rupanya, masih banyak pelaku bisnis yang berpikir bahwa cara terbaik untuk memenangkan persaingan adalah dengan mengalahkan lawan-lawan bisnis mereka. Logika berpikir seperti ini, sekilas ada benarnya juga. Tetapi, bagi orang-orang tercerahkan seperti Professor Chan Kim; kemenangan tidak selalu bisa diraih melalui pertarungan berdarah-darah seperti itu. Bahkan, kemenangan terbesar sebenarnya tidak terletak pada pertarungan saling mengalahkan, melainkan saling menumbuhkan satu sama lain. Melalui prinsip saling menjegal untuk mengalahkan, semua orang hanya akan memperebutkan kue kecil meski mesti berlumuran darah. Dan dengan darah itu, lautan pun bisa berubah menjadi merah. Menjadi the red ocean.
Sedangkan, dengan prinsip saling melapangkan jalan untuk menumbuhkan satu sama lain; kemenangan menjadi milik semua orang. Untuk menang, kita tidak harus menumpahkan darah. Sehingga setiap orang bisa sama-sama untung pula. Market berhasil dikembangkan, dan total bisnis menjadi semakin besar. Lautan, tidak akan menjadi keruh karena pertempuran. Airnya akan tetap terlihat biru, sebagai tanda tersimpannya potensi yang nyaris tak berbatas. Karena setiap orang yang bersedia melapangkan jalan bagi lawan-lawannya, sesungguhnya tengah berenang dalam sebuah dunia luas yang disebut blue ocean. Dan bahtera tempatnya mengarungi samudera biru itu bernama the blue ocean strategy. Begitulah yang diajarkan oleh Profesor Kim kepada kita.
Dalam hubungan antar manusia, kita juga sering melihat orang yang saling jegal. Entah karena persaingan memperebutkan calon pasangan hidup. Atau perebutan kursi kekuasaan. Atau sekedar ingin mendapatkan pujian dari atasan; orang bisa menjegal orang lain. Fanatisme terhadap seseorang atau kelompok tertentu, bisa juga menjadi penyebab lainnya. Percayalah, kita tidak akan pernah kehabisan alasan untuk menjegal lawan. Tetapi, apakah kita mesti selalu demikian?
Memberi jalan kepada lawan. Mengapa tidak? Jika setiap orang berpikiran demikian, maka didunia ini tidak akan pernah ada orang yang terjegal, lalu terjungkal. Setiap orang, justru akan mendapatkan jalan sesuai haknya masing-masing. Bahkan, ketika setiap orang saling mempersilakan lawannya untuk melintas dijalan miliknya; permusuhan berubah menjadi persaudaraan yang menghasilkan kesejahteraan bersama.
Ada yang bilang; jika kita berdada lapang, orang lain bertindak curang! Mungkin bisa demikian. Tetapi jika dengan lapang dada itu kita mencapai kemuliaan, hingga Tuhan berkenan menyukai jalan yang kita tempuh; mengapa kita harus takut dengan kecurangan orang? Karena, konon Tuhan pernah berfirman bahwa sesungguhnya orang-orang yang berbuat curang, tidak mencurangi siapapun kecuali dirinya sendiri.
Kita tidak ingin mencurangi diri sendiri, bukan?

Source:
dadangkadarusman.com
Posting Komentar
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...