Halaman Muka

Senin, 30 Maret 2015

S O P



Ini adalah salah satu kalimat paling popular diantara kita;”Jika bisa di bikin sulit, mengapa dibuat mudah…?” Awalnya kita hanya menganggap itu sebagai sindiran. Lalu berubah menjadi guyonan. Kemudian berevolusi menjadi kebiasaan yang menggoda kita untuk melakukannya juga. Maka tidak heran jika semakin hari, semakin jarang kita temukan orang-orang yang melayani dengan semangat untuk memudahkan urusan orang lain. Cobalah ingat-ingat kembali, mana yang lebih banyak Anda rasakan; pelayanan yang memudahkan urusan Anda atau sebaliknya?

Istri saya memiliki pengalaman menarik. Suatu ketika dia menemani ibunya untuk kebutuhan pelayanan kesehatan di tempat yang jauh. Dia sudah membawa ibu kami ke berbagai tempat, sehingga mempunyai referensi pelayanan dari pengalaman sebelumnya. Di tempat terakhir ini, dia mendapatkan pengalaman berbeda. Sebagai orang baru dia tidak mengenal budaya setempat. Bukan itu saja, beberapa kelengkapan administrasi tidak terbawa pula. Apa yang terjadi? Dia diminta untuk duduk di ruang tunggu, sedangkan ‘semua urusan’ ditangani oleh seseorang yang melayaninya di tempat itu. “Kenapa sih tempat kita sendiri aku tidak menemukan pelayanan seperti ini?” begitulah kalimat yang dilontarkannya. Jawabannya sederhana saja; kita tidak terbiasa untuk memudahkan urusan orang lain. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar memudahkan urusan orang lain, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:

Why Intelligent People Get Stuck


My friend Tucker is one of the funniest, most incisive people I’ve ever met. Ever since he graduated from a prestigious university 15 years ago, he’s thrived in the intellectual circles of New York City, where his easygoing charm has won him friends in every branch of the arts.
In almost every way his life was a success. But career-wise, he was in the deep freeze. Having quickly landed a low-level job with a prestigious publishing company soon after graduation, he languished in the same job. What he really wanted was to be a professional illustrator, but he’d had to get by doing clerical work as his creative-minded peers rose up through the ranks at magazines and advertising agencies.
What went wrong? In a word, fear. Tucker was such a star in his academic program at school that he had come to see himself as a person destined for extraordinary achievement. That self-conception made it impossible to move forward. If he tried to reach for the brass ring and failed, his self-conception would be punctured, a loss that he wouldn’t be able to bear.
Or so he thought. In reality, trying and failing would be painful, but not catastrophic. In fact, as Daniel Gilbert writes in Stumbling on Happiness, people who suffer great misfortunes in life often walk away feeling happier and more appreciative in the long term.

Senin, 23 Maret 2015

Cara Membangun Hubungan yang Kuat Pada Team

Membangun team yang solid dan perform adalah kunci keberhasilan. Seaorang leader harus memahami fase tumbuh-kembang tim sejak team terbentuk dan mengerti apa yang harus dilakukan pada sisi leadershipnya pada tiap fase tersebut. Di samping itu, Leader haruslah mengerti bagaimana membangun hubungan yang kuat dengan teamnya.

Membangun team bukanlah pekerjaan yang terlalu sulit, namun tidak juga gampang. Tugas ini ada pada seorang manager / leader. Team yang solid dan kuat akan menghasilkan performa yang tinggi. Bisa jadi tugas membina team adalah salah satu tugas terpenting seorang manager / leade. 

Workaholic: Dapat Merusak Karir Anda?

Netty Delima, EXPERD Consultant
Dalam era yang semakin kompetitif ini, banyak yang menempatkan pekerjaan sebagai hal yang terpenting dalam kehidupan. Seperti yang dialami oleh Sinta (28), seorang karyawati di sebuah perusahaan multinasional terkemuka. Ia memulai karirnya dari entry level tiga tahun yang lalu. Baru seminggu ini ia diangkat sebagai supervisor yang memiliki beberapa anakbuah. Prestasi yang dicapainya ini tentu saja ia peroleh dengan kerja keras, karena persaingan yang cukup tinggi dengan karyawan lainnya. 

Selain merasa bangga, ia juga semakin terpacu untuk memberikan performance yang lebih memuaskan. Kalau biasanya ia masih dapat menikmati akhir minggu dengan jalan-jalan di mal, kumpul-kumpul dengan keluarga atau olahraga, kini ia rela untuk lembur di kantor. Malam minggu ia habiskan untuk menyelesaikan tugas-tugas kantor, dan tidak jarang pula ia membawa sebagian pekerjaannya ke rumah. Dengan tugas dan tanggung jawab yang semakin banyak, ia sering merasa kekurangan waktu untuk menyelesaikan tugasnya. Kadang-kadang, saat makan siang pun ia masih tetap memikirkan pekerjaan.

Senin, 02 Maret 2015

the real human best friend



Every human being needs a best friend. Menurut pendapat Anda, apakah itu betul? Saya kira iya. Kita semua mendambakan untuk memiliki sahabat dalam hidup kita. Sekarang cobalah ingat-ingat kembali tentang sahabat-sahabat yang pernah Anda miliki. Lalu pilihlah siapakah diantara mereka yang layak mendapatkan gelar sebagai sahabat terbaik bagi Anda. Jika Anda sudah memilihnya, lalu tanyakan kembali; mengapa dia bisa disebut sebagai sahabat terbaik bagi Anda?

Saya lahir dan dibesarkan di daerah pertanian yang masih dilingkupi suasana alam bebas. Ayah saya memiliki berbagai hewan ternak yang harus dijaga siang dan malam. Oleh sebab itu, kami memelihara beberapa ekor anjing. Kami sepenuhnya sadar jika banyak orang yang menilai buruk kepada anjing. Namun diantara sejumlah sisi buruk itu, kami menemukan banyak sisi baik yang mengagumkan. Bahkan, anjing memperlihatkan banyak kualitas positif yang diabaikan oleh manusia. Padahal, mestinya sih manusia yang memiliki semua kebaikan itu. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar tentang kebaikan dari perilaku anjing; saya ajak untuk memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:

1. Tutur kata yang baik selalu mendapat tempat yang baik. 
Kualitas seekor anjing dinilai dari gonggongannya. Bahkan sekalipun Anda tidak memiliki anjing, Anda bisa membedakan gonggongan bernada mengancam dengan gonggongan yang hangat bersahabat. Manusia juga sama. Kita menilai seseorang dari apa yang diucapkan oleh lidahnya. Kita cenderung menyukai orang-orang yang memiliki tutur kata santun dan sopan. Sebaliknya, kita tidak terlalu nyaman berkomunikasi dengan mereka yang kasar dan arogan. Maka pantaslah jika orang tua kita menasihatkan untuk senantiasa menjaga lisan. Karena lisan sering ‘menentukan nasib’ seseorang. Meski para pemilik anjing cenderung menyukai gonggongan anjing mereka sendiri, namun mereka pun mengakui jika anjing orang lain mempunyai gonggongan yang lebih baik dari anjing miliknya. Meskipun manusia memiliki banyak perbedaan dan cenderung menyukai pendapat kelompok masing-masing, namun setiap orang memahami ‘bahasa universal’ yang berisi pesan-pesan tentang kebaikan. Makanya, ketika Anda menyuarakan pesan kebaikan, pasti kebanyakan orang menyukainya. Mereka tidak mempertanyakan agama Anda apa, atau jumlah uang Anda berapa. Karena setiap tutur kata yang baik, selalu mendapat tempat yang baik, dihati orang-orang baik.

Senin, 02 Februari 2015

Peraturan yang sulit bagi dokter asing untuk bekerja di Indonesia. Siapa yang diuntungkan?

by Dr Tony Setiobudi BMedSci, MBBS, MRCS, MMed (Ortho), FRCS (Ortho)

Photo by dr Indrawan E,SpOG

"Ada peraturan pemerintah yang menguntungkan rakyat dan negara. Ada peraturan pemerintah yang menguntungkan segelintir orang"

Semua negara mempunyai kedaulatan. Negara membuat peraturan untuk melindungi negari sendiri dari pengaruh dan gangguan negara-negara lain. Baru-baru ini Indonesia memperketat perlindungan perbatasan laut. Kapal asing yang masuk perairan Indonesia secara ilegal akan ditindak dengan tegas. Ini adalah contoh dari peraturan dan tindakan yang menguntungkan negara.

Indonesia mempunyai ekonomi terbesar no 1 dan GDP per kapita no 5 di Asia Tenggara. Seharusnya kita memiliki standar yang tinggi dari segi pelayanan medis, setidaknya sebanding dengan Malaysia dan Thailand. Kita memerlukan infrastruktur medis kelas dunia dan tenaga kerja yang handal. Infrastruktur kelas dunia dapat dibangun asal ada dana. Tenaga kerja medis kelas dunia dapat dikembangkan tapi membutuhkan waktu dan komitmen yang tinggi. Ini memerlukan perubahan radikal dalam pola pikir (dari pola pikir yang mengutamakan kepentingan diri sendiri ke pola pikir yang mengutamakan kepentingan masyarakat). Salah satu cara untuk membangun tenaga kerja medis kelas dunia adalah dengan mengundang dokter asing yang berkompitensi tinggi untuk transfer teknologi dan pengetahuan.

Senin, 26 Januari 2015

Succes By Positive Visualisation

by Yodhia Antariksa


Ketika anda membayangkan sesuatu melalui pikiran, kira-kira apa yang terpancar dalam benak anda : apakah anda membayangkan sebuah pencapaian, apresiasi dan kemenangan atau sebaliknya, kegagalan dan keterpurukan? Sejumlah riset menunjukkan bahwa ternyata visualisasi memberikan pengaruh kuat terhadap kinerja kita. Ketika imajinasi kita selalu dihantam oleh bayangan keterpurukan dan pesimisme, maka jaringan otak kita perlahan-lahan akan mendorong kita untuk benar-benar mengalami keterpurukan.

Sebaliknya, ketika kita selalu membangun bayangan positif tentang diri kita, maka kita sesungguhnya tengah memulai dan memperkuat “cara kerja yang sempurna” di dalam otak kita. Pada gilirannya, jaringan sel dalam otak ini akan mampu mendorong kita untuk juga meraih kesempurnaan dalam kinerja nyata. “The more we practice perfection through mental rehearsals, the stronger the neural pathways will become and the better we will perform when the time comes”, demikian ujar Kris Cole dalam risalahnya yang berjudul Positive Visualization.

Olahragawan dan atlet telah mengkhayal bertahun-tahun untuk menjadi sempurna. Dan pada kenyataanya, satu dari pemain golf dunia, Jack Nicklaus, menempatkan 50 persen kesuksesannya karena ia rajin membangun visualisasi positif.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...