By Dadang Kadarusman ⋅
Ini adalah salah satu kalimat paling popular diantara kita;”Jika bisa
di bikin sulit, mengapa dibuat mudah…?” Awalnya kita hanya menganggap
itu sebagai sindiran. Lalu berubah menjadi guyonan. Kemudian berevolusi
menjadi kebiasaan yang menggoda kita untuk melakukannya juga. Maka tidak
heran jika semakin hari, semakin jarang kita temukan orang-orang yang
melayani dengan semangat untuk memudahkan urusan orang lain. Cobalah
ingat-ingat kembali, mana yang lebih banyak Anda rasakan; pelayanan yang
memudahkan urusan Anda atau sebaliknya?
Istri saya memiliki pengalaman menarik. Suatu ketika dia menemani
ibunya untuk kebutuhan pelayanan kesehatan di tempat yang jauh. Dia
sudah membawa ibu kami ke berbagai tempat, sehingga mempunyai referensi
pelayanan dari pengalaman sebelumnya. Di tempat terakhir ini, dia
mendapatkan pengalaman berbeda. Sebagai orang baru dia tidak mengenal
budaya setempat. Bukan itu saja, beberapa kelengkapan administrasi tidak
terbawa pula. Apa yang terjadi? Dia diminta untuk duduk di ruang
tunggu, sedangkan ‘semua urusan’ ditangani oleh seseorang yang
melayaninya di tempat itu. “Kenapa sih tempat kita sendiri aku tidak
menemukan pelayanan seperti ini?” begitulah kalimat yang dilontarkannya.
Jawabannya sederhana saja; kita tidak terbiasa untuk memudahkan urusan
orang lain. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar
memudahkan urusan orang lain, saya ajak untuk memulainya dengan
menerapkan 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:






.jpg)