Halaman Muka

Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 April 2015

Tips : Agar Disukai Orang Lain


Siapa sih dari kita yang tidak ingin disukai oleh banyak orang? Setiap individu yang suka bersosialisasi tentunya ingin diterima dan disukai oleh lingkungannya. Karena dengan disukai banyak orang, maka dalam berinteraksi kita akan menjadi semakin enjoy. Tidak ada rasa curiga, tidak ada rasa iri dan dengki serta tidak ada perasaan tidak enak di dalam hati orang-orang yang menyukai kita.

Sebetulnya ada cara yang sederhana agar kita disukai banyak orang. Dalam buku Best Seller "Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain" karya Dale Carnegie disebutkan, untuk membuat orang lain menyukai kita adalah dengan cara "Memperlakukan mereka seperti kita ingin diperlakukan". Meski sederhana namun dalam aplikasinya di kehidupan sehari-hari, cara ini begitu sulit karena membutuhkan pengorbanan untuk melakukannya. Mengapa saya katakan sulit dan membutuhkan pengorbanan? Karena seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk egois.

Dalam buku ini juga mengajarkan kepada kita semua melalui sebuah ungkapan bijak, "Jika ingin mendapatkan madu, jangan tendang sarang tawonnya". Maksud dari ungkapan tersebut adalah jika kita ingin mendapatkan respek dan disukai orang lain, maka jangan pernah menyinggung perasaannya. Apalagi sampai menyakiti fisiknya dengan cara memukul, menampar, mencakar, atau dengan jurus apapun yang kita kuasai.

Sikap Dan Kesuksesan


Kebanyakan orang untuk meraih kesuksesannya, cenderung lebih konsen terhadap bidang keahlian yang ingin ditekuninya, namun justru hal yang sebenarnya lebih penting dari itu kadang justru terabaikan. Hal yang lebih utama dari keahlian atau skill yang harus dimiliki setiap orang yang ingin sukses di bidang apapun (sesuai yang diinginkan) adalah SIKAP.

Berdasarkan hasil penelitian para ahli terhadap ribuan orang-orang yang sukses dalam bidang masing-masing, disimpulkan bahwa kemampuan atau keahlian teknis (technical expertise) hanya berperan 15% terhadap kesuksesannya. Sedangkan 85% kesuksesan dari tiap-tiap individu tersebut dipengaruhi oleh sikap. Itulah kenapa banyak dari kita yang sebenaranya memiliki skill atau keahlian teknis yang tinggi, namun tidak mendapat karir yang lebih bagus. Atau jika mau mengembangkan usaha, tidak memperoleh perkembangan yang signifikan.

Menurut Jennie S. Bev, penulis buku "Rahasia Sukses Terbesar", yang juga seorang konsultan, entrepreneur, edukator dan juga merupakan salah seorang warga Indonesia yang sukses di Amerika, beliau mengulas 10 Sikap dan Kepribadian orang sukses (baik dari segi keuangan dan prestasi) yang berdasarkan pada komunikasi dan pergaulannya dengan para billionaire dan beberapa pengusaha sukses lainnya.

Senin, 30 Maret 2015

S O P



Ini adalah salah satu kalimat paling popular diantara kita;”Jika bisa di bikin sulit, mengapa dibuat mudah…?” Awalnya kita hanya menganggap itu sebagai sindiran. Lalu berubah menjadi guyonan. Kemudian berevolusi menjadi kebiasaan yang menggoda kita untuk melakukannya juga. Maka tidak heran jika semakin hari, semakin jarang kita temukan orang-orang yang melayani dengan semangat untuk memudahkan urusan orang lain. Cobalah ingat-ingat kembali, mana yang lebih banyak Anda rasakan; pelayanan yang memudahkan urusan Anda atau sebaliknya?

Istri saya memiliki pengalaman menarik. Suatu ketika dia menemani ibunya untuk kebutuhan pelayanan kesehatan di tempat yang jauh. Dia sudah membawa ibu kami ke berbagai tempat, sehingga mempunyai referensi pelayanan dari pengalaman sebelumnya. Di tempat terakhir ini, dia mendapatkan pengalaman berbeda. Sebagai orang baru dia tidak mengenal budaya setempat. Bukan itu saja, beberapa kelengkapan administrasi tidak terbawa pula. Apa yang terjadi? Dia diminta untuk duduk di ruang tunggu, sedangkan ‘semua urusan’ ditangani oleh seseorang yang melayaninya di tempat itu. “Kenapa sih tempat kita sendiri aku tidak menemukan pelayanan seperti ini?” begitulah kalimat yang dilontarkannya. Jawabannya sederhana saja; kita tidak terbiasa untuk memudahkan urusan orang lain. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar memudahkan urusan orang lain, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:

Senin, 02 Maret 2015

the real human best friend



Every human being needs a best friend. Menurut pendapat Anda, apakah itu betul? Saya kira iya. Kita semua mendambakan untuk memiliki sahabat dalam hidup kita. Sekarang cobalah ingat-ingat kembali tentang sahabat-sahabat yang pernah Anda miliki. Lalu pilihlah siapakah diantara mereka yang layak mendapatkan gelar sebagai sahabat terbaik bagi Anda. Jika Anda sudah memilihnya, lalu tanyakan kembali; mengapa dia bisa disebut sebagai sahabat terbaik bagi Anda?

Saya lahir dan dibesarkan di daerah pertanian yang masih dilingkupi suasana alam bebas. Ayah saya memiliki berbagai hewan ternak yang harus dijaga siang dan malam. Oleh sebab itu, kami memelihara beberapa ekor anjing. Kami sepenuhnya sadar jika banyak orang yang menilai buruk kepada anjing. Namun diantara sejumlah sisi buruk itu, kami menemukan banyak sisi baik yang mengagumkan. Bahkan, anjing memperlihatkan banyak kualitas positif yang diabaikan oleh manusia. Padahal, mestinya sih manusia yang memiliki semua kebaikan itu. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar tentang kebaikan dari perilaku anjing; saya ajak untuk memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:

1. Tutur kata yang baik selalu mendapat tempat yang baik
Kualitas seekor anjing dinilai dari gonggongannya. Bahkan sekalipun Anda tidak memiliki anjing, Anda bisa membedakan gonggongan bernada mengancam dengan gonggongan yang hangat bersahabat. Manusia juga sama. Kita menilai seseorang dari apa yang diucapkan oleh lidahnya. Kita cenderung menyukai orang-orang yang memiliki tutur kata santun dan sopan. Sebaliknya, kita tidak terlalu nyaman berkomunikasi dengan mereka yang kasar dan arogan. Maka pantaslah jika orang tua kita menasihatkan untuk senantiasa menjaga lisan. Karena lisan sering ‘menentukan nasib’ seseorang. Meski para pemilik anjing cenderung menyukai gonggongan anjing mereka sendiri, namun mereka pun mengakui jika anjing orang lain mempunyai gonggongan yang lebih baik dari anjing miliknya. Meskipun manusia memiliki banyak perbedaan dan cenderung menyukai pendapat kelompok masing-masing, namun setiap orang memahami ‘bahasa universal’ yang berisi pesan-pesan tentang kebaikan. Makanya, ketika Anda menyuarakan pesan kebaikan, pasti kebanyakan orang menyukainya. Mereka tidak mempertanyakan agama Anda apa, atau jumlah uang Anda berapa. Karena setiap tutur kata yang baik, selalu mendapat tempat yang baik, dihati orang-orang baik.

Senin, 26 Januari 2015

Succes By Positive Visualisation

by Yodhia Antariksa


Ketika anda membayangkan sesuatu melalui pikiran, kira-kira apa yang terpancar dalam benak anda : apakah anda membayangkan sebuah pencapaian, apresiasi dan kemenangan atau sebaliknya, kegagalan dan keterpurukan? Sejumlah riset menunjukkan bahwa ternyata visualisasi memberikan pengaruh kuat terhadap kinerja kita. Ketika imajinasi kita selalu dihantam oleh bayangan keterpurukan dan pesimisme, maka jaringan otak kita perlahan-lahan akan mendorong kita untuk benar-benar mengalami keterpurukan.

Sebaliknya, ketika kita selalu membangun bayangan positif tentang diri kita, maka kita sesungguhnya tengah memulai dan memperkuat “cara kerja yang sempurna” di dalam otak kita. Pada gilirannya, jaringan sel dalam otak ini akan mampu mendorong kita untuk juga meraih kesempurnaan dalam kinerja nyata. “The more we practice perfection through mental rehearsals, the stronger the neural pathways will become and the better we will perform when the time comes”, demikian ujar Kris Cole dalam risalahnya yang berjudul Positive Visualization.

Olahragawan dan atlet telah mengkhayal bertahun-tahun untuk menjadi sempurna. Dan pada kenyataanya, satu dari pemain golf dunia, Jack Nicklaus, menempatkan 50 persen kesuksesannya karena ia rajin membangun visualisasi positif.

Senin, 19 Januari 2015

How to Be a Rising Star

By Judith Sills, Ph.D
Getting ahead requires crossing boundaries. Just beware of the electric fence.


There's an invisible sign posted at your office: Boundary! Cross at Your Own Risk.
One man simply ignores the sign. A former counselor, he makes a career leap to a Director's Guild training program and finds himself an internship at an independent film production company. Within weeks, he is the confidant of the executive producer. Within six months, he is mediating her disputes with senior staff and advising the crew on their romances.

Another worker, a woman, crashes against the boundary, protesting publicly when her boss alters her report to his own liking before he sends it on up the line. Seems she preferred her version; seems the invisible line of authority that gives her boss the power to make the change was not enough to hold her fury in check.

Both employees came up against the professional boundary dilemma—with varying success. In every organization, there exists dividing lines of behavior appropriate to different roles. But the keep-out sign isn't always marked; it's often very subtle and remarkably flexible, depending on everything from individual charm to organizational structure. As a result, many workers struggle with office problems that are boundary issues in disguise.

There's enormous value in making the line clearer for yourself so that you can walk it shrewdly. Knowing how and when to gracefully navigate boundaries that face upward in an organization isn't a requirement for success. But it can increase your access to inside information and open professional opportunities.

Senin, 05 Januari 2015

The Increasing of Level of Consciousness

By H.R. Sofuan M

Photo: journal-pano_23670 by macrj Flickr
Memahami Spirit untuk Menaikkan Kesadaran

Buku-buku  seperti Alchemist dan Power of Now, menjadi bacaan yang sangat digemari belakangan ini. Kedua buku tersebut pada mulanya kurang diminati. Saat diluncurkan keduanya hanya terjual beberapa ratus eksemplar saja. Bahkan buku Power of Now karangan Ekhardt Tolle, menurut pengarangnya sendiri, saat pertama diluncurkan, tahun 1998, menyapa pembacanya melalui mulut ke mulut dan Ekhardt mengantar sendiri beberapa eksemplar bukunya ke toko-toko kecil di Vancouver, Kanada. Dan ketika Oprah Winfrey terpengaruh oleh buku tersebut, pertumbuhan penjualannya pun meledak.

Demikian juga buku Alchemistnya Paulo Coelho. Saat pertama diluncurkan, sangat sepi peminat. Tapi sejak tahun 2003, buku tersebut laris manis bak pisang goreng.

Selain kedua buku tersebut, buku-buku lainnya seperti Journey of the Soul, Conversation with God, dan sebagainya, yang berhubungan dengan masalah spiritualitas dan tingkat kesadaran, juga menjadi buku-buku populer yang sangat diminati.

Minggu, 31 Agustus 2014

Positive Mindset dalam Empat Level Gelombang Otak

By Yodhia Antariksa

Dalam Law of Attaction (Hukum Tarik Menarik) kita mengetahui bahwa betapa sesungguhnya pola pikir dan rajutan imajinasi kita memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sejarah masa depan hidup kita. Demikianlah, jika kita selalu mampu menganyam pola pikir yang guyub dengan energi positif – dengan energi tentang keyakinan-diri, dengan pancaran optimisme yang kokoh, dan dengan sikap hidup yang selalu penuh rasa sukur – maka ada peluang besar bahwa hidup sejati kita akan benar-benar dilimpahi oleh sederet narasi tentang keberhasilan.

Sebaliknya, jika bentangan hidup kita selalu diharu-biru oleh rajutan pola pikir yang negatif – tentang bayangan kelam kegagalan, tentang rasa tak percaya diri, tentang kegamangan, dan sikap hidup yang selalu mengeluh serta menyalahkan pihak lain (tanpa mau jernih melakukan introspeksi) – maka besar kemungkinan hidup nyata kita benar-benar akan dipenuhi dengan elegi pilu kemalangan dan kenestapaan.

Itulah mengapa kaum bijak bestari memberi petuah agar kita bisa selalu melentikkan api optimisme dalam diri kita dan juga mampu merawat pola pikir positif. Positif melihat masa depan kita, positif melihat segenap tantangan yang menghadang, dan positif dalam berpikir serta berimajinasi.

Minggu, 30 Juni 2013

The Power

Source : yahoo.com
Setiap manusia di anugerahi oleh Tuhan kekuatan, yang membuat dia mampu bertahan hidup dari saat dilahirkan sampai ajal menjemput. Kekuatan itu tersimpan di dalam diri di setiap manusia dan akan terpancar keluar bila dia sering melatihnya. Ada banyak cara melatih diri atau menempa diri agar kekuatan yang Kita miliki dapat didaya gunakan semaksimal mungkin. Sebuah pepatah kuno menyatakan : "... Hanya samudra yang luas dan ganas yang akan melahirkan pelaut-pelaut handal...". 

Cobaan, tantangan, ujian dan halangan dalam kehidupan anak manusia, disadari atau tidak merupakan sarana dalam membangun diri menjadi pribadi yang tanggap, tanggon, trengginas dan tangguh dalam mengarungi hidup. Paling tidak, ada 6 kekuatan dahsyat yang dimiliki oleh setiap manusia yang hidup di dunia ini. 

Minggu, 23 Juni 2013

Hadiah Buat Yang Melanggar Aturan

By Hendrik Ronald

Saya sering mengatakan biasanya orang sukses melakukan hal-hal dengan cara yang berbeda. Misalnya saja, di saat kebanyakan orang men-interview calon karyawan satu per satu, saya malah men-interview 30 orang sekaligus. Di saat hotel-hotel lain tidak memperbolehkan karyawannya menginap, saya malah mempersilahkan dan memerintahkan seluruh karyawan saya untuk menginap di hotelnya sendiri. Bagaimana caranya bisa tau apa yang dirasakan oleh tamu kalau tidak pernah menjadi tamu? Begitu pula dengan peraturan !!

Dua hari yang lalu, seorang karyawan sebuah hotel di Yogyakarta bernama Wisnu, terpaksa mengambil butter (mentega) dari meja buffet tamu untuk membuatkan telur kesukaan saya. Dia “membengkokkan” peraturan untuk memberikan service terbaik untuk customernya !!

Minggu, 16 Juni 2013

Mendaur Hobi Mendulang Uang

by Steven Agustinus 

Source : docdreyfus com
Untuk mengubah hobi yang kita miliki menjadi keuntungan secara material, hal pertama yang dibutuhkan adalah kreatifitas. Setiap orang pasti memiliki hobi, tapi yang membedakan seseorang dengan yang lainnya adalah kreatifitas untuk mengubah hobi menjadi sebuah keuntungan tersendiri. Jadi, untuk itu dibutuhkan kreatifitas yang di atas rata-rata.

Yang kedua, tentu saja sense of business yang cukup tajam, sehingga kita bisa melihat peluang apa saja yang terdapat dalam hobi yang kita miliki, yang akan bisa menghasilkan keuntungan secara material bagi kita secara pribadi. Selain itu, kita juga membutuhkan marketing plan (perencanaan) dan promosi, sehingga apa yang kita pasarkan dari hobi tersebut bisa diketahui banyak orang.

Orang yang kreatif adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menanggulangi segala kendala/halangan/kesulitan yang ia miliki, supaya dia bisa tetap diuntungkan dari situasi atau keadaan yang ada. Saya mendapati bahwa kreatifitas bisa membuat seseorang selangkah lebih maju dibanding orang-orang lain. Kreatifitas ini juga yang membuat orang-orang jaman batu dulu bisa menciptakan alat-alat untuk bertani, bercocok tanam ataupun berburu, sehingga mereka sanggup bertahan hidup.

Jadi, kreatifitas ini sebetulnya dimiliki oleh semua orang, hanya mungkin belum terasah. Itu sebabnya kita sering mendapati adanya pelatihan yang diadakan khusus untuk mengasah intelegensi kreatif yang kita miliki, sehingga kita bisa menjadi lebih kreatif dari sebelumnya. Sebagai contoh, dalam memandang sebuah masalah, seringkali kita seperti ‘terbelenggu’ oleh masalah yang ada, sementara orang-orang yang memiliki kreatifitas tinggi akan segera berpikir ‘out of the box’. Dengan demikian, ketika kita berbicara tentang masalah yang dihadapi untuk membuat hobi kita menghasilkan keuntungan material, kreatifitas menjadi salah satu senjata utama yang harus kita miliki.

Minggu, 19 Mei 2013

Awaken Your Personal Power

By Al Falaq Arsendatama

My Brother
Pernahkan terlintas dibenak Anda mengapa beberapa orang tertentu seperti dilahirkan sebagai winners ? Orang-orang seperti ini biasanya dengan mudah meraih prestasi dan memiliki karir sukses. Apa sesungguhnya yang membuat orang-orang ini berhasil, sementara yang lain jatuh gagal ?

Sebetulnya tidak ada yang aneh dalam hal ini. Orang-orang ini memiliki kemampuan mengelola potensi yang ada dalam dirinya dan mengambil alih kendali hidup yang diarahkan untuk pencapaian sebuah tujuan. Dalam kata lain, mereka menguasai personal power.

Minggu, 28 April 2013

Manusia Rata-rata

carapedia.com

Istilah manusia rata-rata terdapat dalam buku “Dasar Dasar Sukses Anda” yang ditulis oleh W.J. Brown. Buku ini tergolong buku lama, kemungkinan diterbitkan sekitar tahun 1970-an, karena masih menggunakan ejaan lama.

Manusia rata-rata menurut W.J. Brown adalah manusia yang gampang merasa puas asal mereka dengan satu dan lain cara bisa tetap hidup. Nah, bagi siapapun yang ingin hidup sukses, mengenal lebih jauh sifat-sifat dari manusia rata-rata ini adalah satu poin yang bagus.

Sifat manusia rata-rata itu di antaranya adalah enggan untuk berusaha secara sungguh-sungguh, mati-matian dan membiarkan dirinya diombang-ambingkan oleh keadaan serta tidak bertindak atas kemauan sendiri. Tidak punya visi, takut dianggap beda, dan selalu ingin seperti orang kebanyakan. Tidak punya nalar kritis, terlalu mudah percaya, lekas takut kepada tanggung jawab dan suka cuek bebek. Istilah sekarang ‘emang gue pikirin’ (EGP).

Minggu, 17 Februari 2013

Career of Your Dreams, Career of Your Genes

Ever wonder why you ended up at the job you did? You may have your genes to thank

Twin studies show that the career of your dreams may be the career of your genes. In 1979, identical twins Dean and David Kopsell took part in a study I conducted on cooperation and competition between twins. They were 9 years old at the time, a highly compatible pair who worked together on their puzzle task with skill and motivation. The smiles on their faces reflected the joy they felt in a job well done. Their IQ scores were well above average and perfectly matched.

Today, at 29, Dean and David are both finishing doctoral degrees in horticulture at the University of Georgia and are seeking similar research positions at the same institution. How did the Kopsell twins come to walk the same career path? What has made me a researcher and not an investment banker, another person a teacher and not a ditchdigger? And why do some people find their jobs gratifying, while others experience only the daily grind? Since we spend most of our waking hours in the workplace, these questions are key.

Increasingly, researchers have been turning to identical and fraternal twins for answers, with dramatic results. They are finding that genetics, in addition to familial interests, educational, social and other environmental pressures, have a considerable impact on how we choose what we do—and how happy we are with that choice.

Twins reared apart, one University of Minnesota study showed, chose jobs that were similar in terms of complexity level, motor skills and physical demands. In other studies, twins have been shown to have similar tendencies when it comes to "enterprising," "conventional" and "artistic" undertakings; they also share basic interests, be they science, the pastry arts or public speaking. In both sets of measurements, the similarities between identical twins are greater than between fraternal twins.

Berpikir Kreatif Pasca Kehilangan Pekerjaan

Memanfaatkan Krisis untuk Keuntungan Anda

Dalam masa krisis finansial ini tentunya kita semua berharap keadaan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Namun sore itu saya ditelepon oleh seorang teman yang memberitahu kalau dia baru saja kehilangan pekerjaan.

Teman saya ini sudah 12 tahun bekerja di salah satu perusahaan asuransi multinasional. Dia sudah membayangkan posisi baru di depan mata ketika tiba-tiba perusahaannya terkena dampak krisis global keuangan yang disusul dengan PHK massal atau istilah kerennya redundancy.

Akhirnya kami memutuskan bertemu dan bertukar pikiran untuk mencari sikap yang tepat dalam menghadapi situasi yang tak terduga ini. Intinya, kehilangan pekerjaan menimbulkan masalah finansial dan psikologis akan tetapi selalu ada kesempatan untuk menciptakan kondisi yang lebih baik.

Sabtu, 16 Februari 2013

How Good Is Your Listening Skill ?

By Hendrik Ronald

iras.gov.sg
Dalam dunia service dan bisnis, kita sebaiknya mendengarkan. Kita mendengarkan untuk didengarkan. Bagaimana kita bisa melayani konsumen dengan baik kalau kita tidak pernah mendengarkan? Bagaimana mau menghasilkan Excellent Product kalau tidak mau mendengarkan? Kalau seandainya ada pilihan, “Mana yang lebih baik, enak di customer atau enak di kita?”. Sebagian pilih ‘enak di kita’, sebagian besar pilih ‘enak di konsumen’. Namun saran saya, pilih yang enak dua-duanyaNamun, kalau anda harus memilih, pilih yang lebih enak di konsumen. Mereka yang membayar gaji kita (sebaiknya kita sadar).

Selasa, 25 Desember 2012

Knowing When To Stop


"When do we stop?" my patient's son asked me. "That's really hard to know," I answered. We were discussing when to stop making interventions in hopes of trying to save his father's life. He'd been diagnosed with a severe gastrointestinal bleed from a stomach ulcer. Though most bleeding of this kind is identified in time and stopped, my patient had lost nearly half his blood volume and passed out before anyone realized anything was wrong. By the time his family had brought him to the emergency room, he was hypotensive,  unconscious, and in acute kidney and liver failure. He was admitted directly to the ICU, transfused eight units of blood, and put on a ventilator. Forty-eight hours later, his kidney function had worsened enough that we were considering beginning him on dialysis, and he'd developed an aspiration pneumonia.

"It's just one thing after another," his son lamented when I told his family this news. I nodded. We see this commonly, I told him. When one organ system starts to fail for any reason, others frequently follow, like lemmings diving off a cliff, either as a direct result of the failure of the first organ system or as a result of the same insult that caused the first organ system to fail (as in his father's case). Additionally, if there's one adage in medicine that's both tragically true and unappreciated by laypeople it's that interventions (like ventilators) to reverse or manage complications (like brainstem injury) frequently lead to more complications (like aspiration pneumonia).

Rabu, 12 September 2012

Hukum Atraksi

Photo by fadhlyashary.blogspot.com
Kita sering mendengar orang mengatakan bahwa hidup adalah kenyataan yang  diciptakan di dalam pikiran. Benarkah demikian ? Emosi dan pikiran Kita seperti roll film yang berputar 24 jam sehari menayangkan cerita yang Kita buat sendiri. Kita sebagai sutradara, sekaligus pemeran utama, menciptakan kenyataan yang melibatkan orang-orang dan situasi di sekelilingnya. Lantas, apakah mungkin secara sadar Kita mengubah sikap orang lain melalui pemikiran dan emosi yang Kita miliki? Terkait dengan hal tersebut di atas, mari Kita bahas hal ini melalui aplikasi hukum atraksi atau Law of Attraction .

Rabu, 05 September 2012

Langkah Strategis Menjaga Motivasi

Salah satu faktor yang menghalangi Anda untuk sukses adalah kurangnya motivasi. Berapa kali Anda berkata, “Saya ingin kaya”, “Saya ingin berhasil” tetapi Anda tidak membuktikan dalam tindakan Anda bahwa Anda bisa kaya dan Anda bisa berhasil. Terkadang ada beribu alasan dan jawaban untuk menjawab hal tersebut di atas.

Kurangnya motivasi berkaitan dengan tidak jelasnya cara untuk mencapai tujuan Anda. Barangkali sering terlintas di pikiran Anda untuk menjadi pengusaha sukses atau mencapai karir tertentu di kantor, tapi Anda tidak tahu caranya sehingga Anda kurang termotivasi untuk mencapai apa yang Anda inginkan.

Rabu, 15 Agustus 2012

Habis Manis... Sepah Dibuang

By Dadang Kadarusman

Upload by Intan Diana in Facebook
“Habis manis, sepah dibuang,” betapa pandainya para sesepuh kita membuat perumpamaan. Orang-orang yang dinilai sudah tidak berguna lagi disisihkan begitu saja. Kadang kita marah, kalau diperlakukan seperti sepah. Padahal, kita juga akan membuang sepah itu jika sudah tidak ada lagi rasa manisnya. Ini soal siapa pelaku dan siapa korbannya saja. Kita tidak suka jadi korban, itu saja. Bukankah kita juga tidak ingin menyimpan sepah dirumah? Wajar jika sepah itu dibuang. Yang tidak wajar adalah yang belum menjadi sepah sudah dibuang. Juga tidak wajar jika kita sudah menjadi sepah, tetapi menuntut orang lain untuk terus menerus menikmati rasa manis yang sudah tidak kita miliki lagi. 

Ngomong-ngomong, ‘sepah’ itu apa sih? Meski bukan daerah penghasil gula, namun di rumah masa kecil saya terdapat rumpun-rumpun pohon tebu. Kami menggunakan parang untuk memotong batangnya, lalu mengupas kulitnya. Kemudian memotong batang tebu itu menjadi seukuran jari-jari telunjuk. Setelah itu? Kami mengungahnya. Rasa manis memenuhi mulut kami. Lalu tiba saatnya dimana kunyahan itu hanya menyisakan rasa tawar saja. Di mulut kami sekarang hanya tertinggal ampas. Kami meludahkan ampas itu ke tanah. Benda tak berdaya diatas tanah itulah yang kita sebut sebagai sepah. Habis manis, sepah dibuang. Memangnya harus diapakan lagi sepah itu jika tidak dibuang? 



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...