Halaman Muka

Minggu, 07 Desember 2014

SELFIE LEADERSHIP STYLE

Catatan Ringan Taufikurrahman

Source: sidomi.com

Mungkin banyak di antara Anda yang gemar ber-"Selfie" ria. Ketika Anda sedang merasa "good mood" untuk narsis berfoto diri, namun tak ada orang lain yang bisa dimintai tolong untuk memotret Anda, maka Anda bisa memotret diri Anda sendiri, dengan kamera handphone, webcam, ataupun piranti digital lainnya, lalu diposting di social media. Itulah yang saat ini sedang "ngetrend" dengan sebutan "Selfie".

Konon sebenarnya Selfie bukan fenomena baru. Menurut tulisan Ryan Grenoble di Huffington Post, dan juga catatan Jonathan Symcox di situs Mirror, "Selfie" pertama di dunia kemungkinan adalah potret diri Robert Cornelius pada tahun 1839. Namun trend Selfie ini mendadak sangat mewabah dan fenomenal sepanjang tahun tahun lalu, sehingga bahkan kata "Selfie" disebut sebagai "Word of the Year 2013" oleh Oxford English Dictionary.

Begitu ramai orang ber-Selfie ria di sosial media, mulai dari selebriti papan atas sampai orang biasa yang baru sekedar bermimpi menjadi selebriti. Bahkan jagat pemberitaan pernah "geger" ketika Obama tertangkap kamera sedang ber-Selfie ria bersama rekan sejawatnya, Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Perdana Menteri Denmark Helle Thorning Schmidt, ketika tengah menghadiri prosesi duka cita wafatnya mendiang Nelson Mandela.

Minggu, 02 November 2014

LEADER AND CHEERLEADER

Source: www.moviecricket.com
Jika Anda penggemar serial televisi “HEROES”, yang pernah ditayangkan di NBC dan sempat sangat populer di kalangan pecinta film bergenre sains-fiksi-aksi beberapa tahun lalu, Anda mungkin masih ingat dengan tagline-nya yang amat terkenal dan unik, yaitu “Save the Cheerleader, Save the World.” Ketika pertama kali tayang di Indonesia, sebelum mengetahui jalan ceritanya, saya sempat heran dengan maksud tagline tersebut. Lha, apa hubungannya antara “Cheerleader” dengan para “Pahlawan” (Heroes)? Jaka Sembung pakai manik-manik, gak nyambung tapi unik. Setelah menonton, baru saya tahu, bahwa dalam film tersebut, si Cheerleader justru menjadi salah satu tokoh sentral di antara para tokoh “Pahlawan” lainnya.
Saya yakin Anda mafhum, bahwa dalam setiap pertandingan olahraga, peran para pendukung, baik supporter, cheerleaders, maupun fans, sangatlah penting. Tanpa penonton, pertandingan sepakbola akan terasa hampa dan aneh. Coba Anda bayangkan pertandingan El-Clasico antara Real Madrid vs Barcelona tanpa penonton. Atau pertandingan derby Manchester United vs Manchester City zonder penonton. Rasanya akan aneh, sepi, dan hampa, bukan? Suasananya akan lebih mirip latihan daripada pertandingan bola beneran.
Para “Pahlawan” atau Bintang sepakbola dengan skill luar biasa seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, dan Robin van Persie mungkin akan tetap dapat bermain bola dengan baik meski tanpa penonton, namun belum tentu akan bermain sama luar biasanya dengan jika mereka disupport oleh riuh rendahnya penonton dan para supporter fanatiknya di stadion. Karena energi penonton-lah yang membuat mereka mampu mengeksploitasi segenap kejeniusan dan kedashyatan bakat mereka bermain bola.
Ya, peran para pendukung, penyemangat, dan penggembira, baik berupa fans, penonton, supporter, tifosi, cheerleaders, pengikut, atau apapun namanya sangat penting untuk membangkitkan semangat juang para “bintang”, “pahlawan”, ataupun “pemimpin”. Bahkan seorang pelatih sepakbola yang angkuh dan “super-pede” seperti “The Special One” Jose Mourinho pun mengakui betapa dahsyatnya peran supporter, bahwa “passion” setiap supporter dan media sama pentingnya dengan para pemain, untuk membuat permainan sepakbola menjadi penuh gairah.
“…I think because of the passion of every English player and every English supporter, and every English journalist for the game, most of the game is played with passion…”, demikian kata Jose Mourinho ketika berbicara mengenai gegap-gempitanya sepakbola Inggris.

Minggu, 05 Oktober 2014

ENERGY, ENERGIZER, EDGE, dan EXECUTE

Catatan Ringan Taufikurrahman Taufik


Source: www.linkedin.com
Pada suatu hari saya diundang untuk memberikan “Kuliah Umum” kepada ratusan adik-adik mahasiswa/mahasiswi di sebuah perguruan tinggi almamater saya tercinta. Esensinya adalah sekedar bagi-bagi “pengalaman” aktual mengenai praktik manajemen dan organisasi bisnis, bukan bagi-bagi “ilmu”, karena memang sebenarnya ilmu saya sama sekali belum semumpuni para dosen senior. Yang jelas, saya selalu senang diundang untuk "back to campus". Bagi saya, datang dan berbagi pengalaman dengan adik-adik mahasiswa/mahasiswi selalu merupakan kebahagiaan tersendiri sekaligus wujud kontribusi saya pada negeri, meski kecil-kecilan. Dan saya tidak pernah mau menerima fee ataupun honorarium, karena memang kegiatan seperti ini saya anggap sebagai "kerja bakti" untuk negeri. :)


Satu hal yang cukup mengejutkan sekaligus menyenangkan saya, ternyata adik-adik mahasiswa dan mahasiswi begitu antusias dan mengajukan sangat banyak pertanyaan-pertanyaan yang bagus dan bernas dalam sesi diskusi. Ratusan mahasiswa yang hadir serentak mengacungkan tangan begitu kesempatan bertanya dibuka. Luar biasa! Anak-anak kuliahan sekarang, meski baru semester kedua, ternyata sudah jauh lebih luas wawasannya dan sangat “haus” akan ilmu, tak malu-malu untuk bertanya. Mudah-mudahan, kelak mereka akan menjadi para pemimpin masa depan yang tak hanya berilmu dan skillful, namun juga bisa bersikap kritis.

SEMANGAT MELAYANI

Catatan Ringan Taufikurrahman Taufik


Siang itu saya diundang untuk bertemu eksekutif puncak sebuah perusahaan besar yang berminat untuk mengetahui lebih jauh mengenai berbagai produk dan solusi yang dapat disediakan oleh perusahaan kami. Beliau mengajak saya untuk lunch meeting di sebuah restoran. Karena khawatir terlambat, saya minta driver saya untuk parkir mobil di area SCBD, lalu saya melanjutkan perjalanan dengan menumpang Ojek meliuk-liuk membelah kemacetan. Tak apalah berpanas-panas, berkeringat, menembus polusi, dan berangin-angin ria naik ojek, karena bagi saya, ketepatan waktu adalah bagian dari "service excellence", layanan prima yang harus selalu saya usahakan untuk customer, bahkan meski baru "calon customer" sekalipun.

Bahkan pada berbagai kesempatan saya seringkali rela berjalan kaki sepanjang jalan Jendral Sudirman untuk mengejar waktu meeting dari gedung ke gedung, jika kebetulan lalu lintas sangat macet dan tak menemukan Ojek. Semuanya saya usahakan demi customer service excellence. Mungkin akan ada teman yang bertanya, "Pak Taufik, Anda kan Presiden Direktur perusahaan multinasional, lha kalau Anda datang ke meeting naik ojek, apakah Anda tidak malu gengsi Anda turun kalau terlihat oleh calon mitra bisnis?" Ah, bagi saya, bonafiditas itu tidak selalu harus dinilai dari penampakan. Akan jauh lebih tidak bergengsi lagi kalau sampai mengecewakan mitra bisnis karena datang terlambat ke lokasi meeting. Saya paham bahwa kebanyakan pebisnis biasanya punya jadwal meeting yang ketat dan padat, maka mereka sangat menghargai waktu. Maka berusaha tepat waktu adalah bagian dari upaya saya untuk selalu berkomitmen terhadap service excellence.

Minggu, 28 September 2014

JURUS "DISC" UNTUK MEETING & NEGOSIASI

Catatan Ringan Taufikurrahman Taufik


“Respect is a two-way street, if you want to get it, you've got to give it.” 
― R. G. Risch

Dengan bersemangat, sang Direktur berpenampilan rapi itu berbicara dan bercerita panjang lebar kepada saya yang berusaha mendengarkannya dengan takzim, sambil menikmati cemilan mix nuts dan kopi di meja. Beliau didampingi sekretarisnya yang tampak tekun mencatat poin-poin penting yang dibicarakan. Begitu semangatnya beliau bercerita, seperti tak pernah kehabisan bahan. Awalnya hanya berbicara soal bisnis, namun kemudian merambah ke berbagai topik, bahkan soal-soal politik, dan akhirnya ujung-ujungnya masuk ke topik yang "menyerempet-nyerempet" dan mengundang gelak tawa kami bertiga.

Whew, rupanya dalam meeting kali ini, saya berhadapan dengan tipe orang yang senang bercerita, suka ngobrol panjang lebar dan senang menyenangkan lawan bicaranya dengan berbagai guyonan lucu. Dari meeting selama dua jam itu, saya hitung-hitung, inti pembicaraan sebenarnya cuma dibahas sebentar dan menghasilkan kesepakatan bisnis hanya dalam waktu lima belas menit saja. Porsi waktu terbesar, apalagi kalau bukan diisi dengan obrolan ngalor-ngidul dengan berbagai topik.

Dalam kesempatan sebelumnya, saya sempat bertemu dengan seorang top eksekutif senior sebuah perusahaan besar. Sang Bapak yang sudah sepuh ini rupanya tipe orang yang biasa berkuasa penuh memegang kendali, dominan, hemat berbicara, namun tegas langsung masuk pokok pembicaraan. Suaranya berat, nadanya tegas, dan tak suka berbasa-basi. Saya hitung-hitung, selama meeting dua jam itu, beliau hanya sempat tersenyum dua kali saja, itupun hanya tersenyum tipis, actually. Pertama, ketika kami bersalaman di awal meeting. Kedua, ketika kami selesai meeting dan bersalaman lagi sebelum berpisah.

Itulah dua contoh dari sekian banyak asam garam dan suka duka yang pernah saya alami dalam berbagai meeting dan negosiasi. Selama saya "berkelana" dalam kurun waktu kurang lebih delapan belas tahun, dari sejak mengabdi di lingkungan Departemen Keuangan, lalu pindah kerja ke perusahaan migas multinasional, kemudian pindah ke World Bank, hingga kembali lagi ke perusahaan migas multinasional, loncat ke perusahaan migas BUMN, lalu kembali memimpin perusahaan multinasional, saya merasa beruntung merasakan begitu banyak pengalaman bertemu dan bernegosiasi dengan berbagai tipe manusia dari berbagai bangsa dengan karakter dan budaya yang berbeda-beda.

At least, akumulasi pengalaman itu membuat cakrawala berpikir saya menjadi lebih lapang secara vertikal dan horisontal. Banyak suka dukanya, susah dan senangnya, namun semuanya saya syukuri dan saya leverage sebagai bagian proses pembelajaran diri, melalui "learning by experiencing".

Why Does Sales Training Fail? It's Your Fault!

By John Doerr

OK, I hope I have your attention now.

Sales training is a multibillion-dollar business. In the U.S. alone, it is estimated to be more than $5 billion (according to Dave Stein in Sales Training: The 120-Day Curse from ES Research Group). Yet, also according to Stein, between 85% and 90% of sales training has no lasting impact after 120 days. If we do the math, that amounts to somewhere north of $4.25 billion of unproductive training.

In speaking to prospects about the sales training they plan to implement, more often than not they ask, "What is the most important thing we have to do to ensure that this investment in training will pay off?" While there are many things that can and should be done (see Why Sales Training Fails), the one I believe is most important is that senior management has to be committed.

Training is not something you do to someone and then go on your merry way, waiting for your newly jazzed sales force to bring in wealth, fame, and fortune. Sales training is a partnership with your sales team, your consultants, or whomever you expect to sell. In order for sales training to have any lasting impact, it must include evaluation, accountability, and continual improvement. In other words, it requires a commitment to manage the sales training process.

I know, not the most exciting of concepts. Maybe even a little boring. But sometimes boring things make the biggest difference.

Minggu, 14 September 2014

Hukum Berpikir Positif


Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik. Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi Pygmalion berkata, “Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini.” Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, “Kikir betul orang itu.” Tetapi Pygmalion berkata, “Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu”. Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, “Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya.

Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...