Halaman Muka

Minggu, 31 Maret 2013

Setiap Orang Itu Adalah Komposer


creditmanagementassociation.org
Anda tidak akan percaya jika saya mengatakan bahwa setiap orang itu adalah komposer. Baiklah, saya akan mulai dengan sebuah idiom yang sangat populer. Garbage in, garbage out. Jika yang masuk itu sampah, pastilah yang keluar juga sampah. Konsep ini biasa digambarkan sebagai diagram yang terdiri dari tiga bagian yang lazim disebut sebagai IPO; Input-Process-Output. Diagram ini sangat berguna untuk secara sederhana menjelaskan bagaimana sebuah system berjalan. Juga sangat berguna untuk meyakinkan kita bahwa; jika kita ingin mendapatkan hasil yang baik, maka kita harus memastikan agar bahan dasarnya juga baik. Misalnya, jika ingin mendapatkan roti yang baik, maka; tepung, gula, telur dan mentega beserta teman-temannya, haruslah yang berkualitas baik. Jika kualitas bahan bakunya buruk; bagaimana mungkin kita mendapatkan hasil yang baik. Itulah alasan kenapa kita kemudian suka mengatakan garbage in  garbage out. Sampah hanya akan menghasilkan sampah. Namun, apakah selalu benar demikian?

Minggu, 24 Maret 2013

Time Management : Menjadi Produktif




Pernahkah Anda merasa pada saat bekerja jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 menjelang makan siang padahal Anda belum sempat menyelesaikan satu pekerjaan pun. Sibuk tapi rasanya pekerjaan tidak produktif? Satu hal yang harus disadari bahwa kesibukan tidak sama dengan menjadi produktif. Anda bisa saja menghabiskan sekian jam tanpa menghasilkan apa-apa. Ada beberapa prinsip yang sebaiknya Anda pertimbangkan dalam manajemen waktu sehingga Anda bisa bekerja efektif:

1. Menyusun Rencana
Ada ungkapan yang mengatakan ”If you fail to plan, you plan to fail”. Apabila Anda menjalani hari Anda tanpa ada gambaran apa yang harus dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya, Anda akan menghabiskan sebagian besar waktu Anda bertanya ”Apa yang harus saya kerjakan sekarang ya?”. Rencana memberikan peta apa yang ada dihadapan Anda hari itu. Alokasikan sedikit waktu untuk menyusun rencana sehingga Anda bisa mengelompokkan tugas-tugas yang sesuai dan memberikan prioritas serta waktu pengerjaannya.

Susunlah rencana di pagi hari atau hari sebelumnya. Anda bisa mulai dari catatan kecil saja atau bahkan menyusunnya di kepala untuk sekedar memberikan sinyal kepada otak mengenai apa yang harus Anda selesaikan hari itu.

Gunakan strategi yang cerdas dalam menyusun rencana. Kapan biasanya Anda merasa energi Anda tinggi, baik mental maupun fisik? Buat saya biasanya waktu antara jam 10:00 sampai 12:00 adalah saat dimana saya sedang ”on fire”. Disaat itu saya manfaatkan untuk memulai atau menyelesaikan tugas-tugas dengan prioritas tinggi. Waktu yang tersisa biasanya saya gunakan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan dengan prioritas lebih rendah.

Rencana tidak bersifat kaku dan selalu terbuka untuk adjustment kapanpun. Jangan lupa untuk menyisipkan waktu untuk istirahat. Pada prinsipnya, Anda melakukan manajemen diri untuk Anda sendiri. Belajar mengelola waktu adalah latihan yang bagus untuk disiplin diri.

Reward & Punishment

Dunia sales & marketing merupakan sebuah profesi yang membutuhkan ”nyali” besar, karena sangat  membatasi kenyamanan karyawannya dalam hal memberikan fix salary, disisi lain diberikan Bonus atau Reward yang besar apabila mencapai target yang di harapkan perusahaan. 
Di sini akan dikenal istilah perusahaan mitra, vendor atau agency untuk perusahaan yang menyediakan tenaga kerjanya saja, dan principal atau user untuk perusahaan yang memproduksi produk sendiri dan juga memasarkan sendiri produk tersebut. Secara pekerjaan kedua bagian ini sama saja, mungkin yang membedakan duitnya kalau kita bekerja didalamnya. Untuk istilah yang pertama pihak agency akan mendapat Fee management kalau mencapai penjualan tertentu, sehingga kalau tidak mampu berjualan fee yang diterimapun akan kecil maka akan berakibat kepada salesnya dengan bonus kecil juga bahkan tidak memberlakukan gaji pokok, kalaupun ada pasti kecil.  

Minggu, 17 Februari 2013

The Art of Second Chances: On Forgiving, Forgetting and Letting Go


Sometimes people screw up. As imperfect beings charged with the power to manipulate, lie, cheat and steal and the emotional sophistication to feel jealousy, heartbreak and outrage, this is to be expected. And so we sometimes find it in our hearts to empathize with the offender and forgive or love them and forget. We award second chances and some of us are filled with so much empathy or love that we give third and fourth chances. Still other times we do not and the offender must lay down in the bed he made.

In our personal lives I am sure that the majority of these decisions are based upon feelings - the raw and blinding emotions of love, lust and fear to name a few. But second chances are not limited to family, friends and lovers and in fact often flood our more objective world. Maybe you are a boss whose employee has failed to meet your expectations or maybe just a guy who got bad service at the corner market. You will, consciously or not, evaluate the offender's worthiness of a second chance.

Resolusi Proaktif untuk Karier Cemerlang


Tahun 2012 telah berlalu dan bulan kedua di tahun 2013 segera berakhir. Waktunya Anda segera memulai perencanaan karier bagi yang terlambat membuat resolusi karier agar lebih baik lagi di tahun ini. Anda bisa mengadopsi saran yang diberikan Shelly Gorman, direktur managemen karier dari UNC Kenan-Flagler Business School, tentang beberapa resolusi proaktif yang bisa dilakukan untuk meningkatkan karier Anda.

1. Cek kembali manajemen karier Anda. 
Untuk memastikan Anda berada pada jalur karier yang tepat untuk Anda, maka tak ada salahnya untuk mengecek kembali dan intropeksi diri Anda dengan pertanyaan seperti, "Dalam pekerjaan ini apakah saya bisa sepenuhnya memanfaatkan keahlian saya?", "Apa visi lima tahun saya ke depan, dan apakah karier saya yang sekarang bisa mewujudkan hal ini?", "Apakah saya menikmati apa yang saya lakukan sekarang ini?"

Career of Your Dreams, Career of Your Genes

Ever wonder why you ended up at the job you did? You may have your genes to thank

Twin studies show that the career of your dreams may be the career of your genes. In 1979, identical twins Dean and David Kopsell took part in a study I conducted on cooperation and competition between twins. They were 9 years old at the time, a highly compatible pair who worked together on their puzzle task with skill and motivation. The smiles on their faces reflected the joy they felt in a job well done. Their IQ scores were well above average and perfectly matched.

Today, at 29, Dean and David are both finishing doctoral degrees in horticulture at the University of Georgia and are seeking similar research positions at the same institution. How did the Kopsell twins come to walk the same career path? What has made me a researcher and not an investment banker, another person a teacher and not a ditchdigger? And why do some people find their jobs gratifying, while others experience only the daily grind? Since we spend most of our waking hours in the workplace, these questions are key.

Increasingly, researchers have been turning to identical and fraternal twins for answers, with dramatic results. They are finding that genetics, in addition to familial interests, educational, social and other environmental pressures, have a considerable impact on how we choose what we do—and how happy we are with that choice.

Twins reared apart, one University of Minnesota study showed, chose jobs that were similar in terms of complexity level, motor skills and physical demands. In other studies, twins have been shown to have similar tendencies when it comes to "enterprising," "conventional" and "artistic" undertakings; they also share basic interests, be they science, the pastry arts or public speaking. In both sets of measurements, the similarities between identical twins are greater than between fraternal twins.

Berpikir Kreatif Pasca Kehilangan Pekerjaan

Memanfaatkan Krisis untuk Keuntungan Anda

Dalam masa krisis finansial ini tentunya kita semua berharap keadaan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Namun sore itu saya ditelepon oleh seorang teman yang memberitahu kalau dia baru saja kehilangan pekerjaan.

Teman saya ini sudah 12 tahun bekerja di salah satu perusahaan asuransi multinasional. Dia sudah membayangkan posisi baru di depan mata ketika tiba-tiba perusahaannya terkena dampak krisis global keuangan yang disusul dengan PHK massal atau istilah kerennya redundancy.

Akhirnya kami memutuskan bertemu dan bertukar pikiran untuk mencari sikap yang tepat dalam menghadapi situasi yang tak terduga ini. Intinya, kehilangan pekerjaan menimbulkan masalah finansial dan psikologis akan tetapi selalu ada kesempatan untuk menciptakan kondisi yang lebih baik.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...