Halaman Muka

Rabu, 29 Agustus 2012

Kopi dan Hipertensi


Kopi sering jadi musuh bagi orang-orang dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi, termasuk penyakit jantung dan stroke. Namun, sebuah penelitian di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa tidak ada bukti kopi dapat meningkatkan risiko penyakit tersebut.

American Journal of Clinical Nutrition dalam jurnalnya melaporkan hasil penelitian setelah menggabungkan dengan studi sebelumnya, yang meneliti dengan responden 170.000 orang. "Kebiasaan minum kopi 3 cangkir sehari tidak ada kaitannya dengan peningkatan risiko hipertensi," kata Liwey Chen, peneliti dari Kesehatan Masyarakat Universitas Louisiana di New Orleans.

MENJUAL ITU CANDU, KEGAGALAN ITU VITAMIN


Seperti biasa dipagi hari sebelum melaksanakan aktivitas, tentu Kita mempersiapkan segala sesuatunya agar pekerjaan hari ini menjadi lebih baik dari pada kemarin, evaluasi kinerja harian, mingguan, atau bulanan akan membantu dalam mencapai target yang diharapkan.

Bekerja itu tidak ada yang enak !” demikian salah satu ungkapan si Boss dalam suatu kesempatan briefing pagi (morning session) untuk teamnya. “...kalau kalian membayangkan dibagian keuangan itu enak, kemudian dibagian adminsitrasi & gudang juga enak, maka kamu salah, semua ada resiko dan kendala....” Maklum, pengalaman si Boss memang diawali dari bawah pernah di delivery, kemudian di survey, di administrasi dan juga keuangan di perusahaan.

New Advance to Combat Antibiotic-Resistant Pneumonia and Malaria

Photo by kispa.org
New biochemical studies may hold clues to more powerful malaria and pneumonia treatments that could save more than 2 million lives worldwide. Using baker's yeast as a surrogate disease model, researchers led by Dartmouth Medical School are exploring why enzymes in organisms that cause pneumonia and malaria are becoming increasingly resistant to antibiotics. This work could provide the answer to testing a new generation of drugs to combat these prevalent diseases.

Investigators used genetically modified yeast enzymes to pinpoint the mutations responsible for the antibiotic resistance of Pneumocystis jirovecii, which causes a type of pneumonia that is the most serious and prevalent AIDS-associated opportunistic infection and a threat to other immunocompromised patients, such as those undergoing therapy for cancer and organ transplantation. Pneumonia was responsible for more than 61,000 deaths in the US in 2001, according to the National Center for Health Statistics.

Only Five Friends

“Kamu hanya memiliki lima teman sejati. Sisanya hanyalah hiasan.”
(pepatah kuno Portugis)


Saat ini nampaknya pepatah tersebut benar adanya. Sebuah survei yang dilakukan pada orang-orang di Inggris saat ini menunjukkan, lima adalah jumlah ideal orang yang kita rasa butuhkan untuk mendukung kita. Namun, sayangnya, sepertiga responden mengatakan bahwa mereka kurang jaringan dan merasa sendirian.

Riset, yang dilakukan Nationwide Building Society menemukan, meskipun obsesi masa modern berkutat pada memperbanyak teman di Facebook dan Twitter, banyak dari kita — 32 persen — kehilangan sosok terpercaya yang dapat dimintai pertolongan saat kesusahan. Pria dua kali lipat cenderung merasa tidak memiliki orang yang mendukungnya daripada wanita, dengan 42 persen yang berpendapat demikian.

Orgasm: It's All In Your Head

by Kayt Sukel
Why the brain is the most important sex organ.

Sebuah gambar berjuta makna
Photo by zwanl.com
It's often said the brain is the biggest sexual organ-and every time it happens, I know it's hard to suppress a groan. It just sounds so trite. So cliché! Yet, here's a prime example of a line being cliché for good reason. The brain is critical to the act of climax, as anyone too distracted by what happened at work earlier that day can attest. The brain plays a huge role in orgasm-surely as much as any other part of the body. And new research in the field of neuroscience suggests that our upstairs may be even more critical to the big O than the downstairs. 

Here's why: we can climax even when genital stimulation is absent. That's right, we can orgasm without a single physical touch. All thanks to our brains. Chances are, you've experienced this phenomenon in one form or another. Those wet dreams from your adolescent days. Crazy, hot sex dreams that feel oh-so-real in the middle of the night. Those dream orgasms are not reflex-rather, those orgasms are the product of our brain at work without physical stimulation. Orgasm can also be the byproduct of a seizure, brain damage or direct brain stimulation. And individuals who have severe spinal cord injuries are also capable of orgasm despite the fact that they can't feel anything below the waist.

SOP Untuk Maling..!!

By Hendrik Ronald

Tok-tok-tok..... Saya terbangun dalam keadaan kaget. Hari saya dimulai sangat pagi hari itu. Sekitar jam 5 pagi. Dimulai dengan seseorang mengetuk pintu saya dengan sangat semangat, lalu menuju ke sisi kanan saya untuk mengambil darah. Lalu keluar meninggalkan saya dalam keadaan kaget dan sulit tertidur lagi. Hal ini dilanjutkan dengan beberapa petugas lagi yang datang untuk mengantarkan makanan, membersihkan ruangan, dan lain sebagainya.

Semua petugas yang ada sangat ramah dan membantu, namun sebagai seorang pasien, hal yang saya butuhkan adalah istirahat. Bukannya mulai mengikuti rutin rumah sakit yang dimulai sangat pagi. Waktu itu saya sedang berada di sebuah Rumah Sakit, dirawat karena terkena DBD (Demam Berdarah Dengue).

Di sana saya merasakan seperti apa menjadi pasien. Di sana saya merasakan ada prosedur yang memang nyaman untuk saya, namun ada juga prosedur yang nyaman untuk perusahaan. Jangan salah paham, saya bukan ingin memulai ‘perang’ Prita ke-2 di sini. Karena Rumah Sakit tempat saya dirawat memang memberikan pelayanan yang sangat baik. Mereka mengganti seprai saya 4 kali dalam 1 malam (karena keringat). Mereka selalu ada saat dibutuhkan, dan lain-lain. Namun sering kali ada saja hal-hal kecil yang terlewatkan oleh top management. Keputusan-keputusan yang diambil oleh middle level management tanpa mencoba ‘merasakan’ seperti apa menjadi pasien. 

The Body Language of the Eyes

by Joe Navarro, M.A
The Eyes Reveal What The Heart Conceals

Our eyes also are formidable communicators of feelings including comfort and discomfort, which help us decipher others from a very tender age. The eyes reveal excitement at mom walking into the room but also reveal concern when we are troubled. Often what is not spoken out loud is expressed exquisitely in the eyes. In fact I was prompted to write this today as I was visiting a research colleague and her eyes, at a distance, told me something was wrong, her father had passed away.

While a mother’s eyes will reflect the hopelessness she may feel when her baby is hospitalized they conversely reveal the joy having found that the child is healthy and fine. Few things reflect our emotions as well or as rapidly as the eyes. Babies which are just several days old already respond to the eyes of the mother and can tell the difference between a squint and wide opened dilated eyes. Babies can tell the difference between a happy and contented mother and one who is stressed, just form looking at the yes.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...