By Hendrik Ronald
Tok-tok-tok..... Saya terbangun dalam keadaan kaget. Hari saya dimulai
sangat pagi hari itu. Sekitar jam 5 pagi. Dimulai dengan seseorang
mengetuk pintu saya dengan sangat semangat, lalu menuju ke sisi kanan
saya untuk mengambil darah. Lalu keluar meninggalkan saya dalam keadaan
kaget dan sulit tertidur lagi. Hal ini dilanjutkan dengan beberapa petugas lagi yang datang untuk mengantarkan makanan, membersihkan ruangan, dan lain sebagainya.
Semua petugas yang ada sangat ramah dan membantu, namun sebagai seorang pasien, hal yang saya butuhkan adalah istirahat. Bukannya mulai mengikuti rutin rumah sakit yang dimulai sangat pagi. Waktu itu saya sedang berada di sebuah Rumah Sakit, dirawat karena terkena DBD (Demam Berdarah Dengue).
Di sana saya merasakan seperti apa menjadi pasien. Di sana saya merasakan ada prosedur yang memang nyaman untuk saya, namun ada juga prosedur yang nyaman untuk perusahaan.
Jangan salah paham, saya bukan ingin memulai ‘perang’ Prita ke-2 di
sini. Karena Rumah Sakit tempat saya dirawat memang memberikan pelayanan
yang sangat baik. Mereka mengganti seprai saya 4 kali dalam 1 malam
(karena keringat). Mereka selalu ada saat dibutuhkan, dan lain-lain. Namun sering kali ada saja hal-hal kecil yang terlewatkan oleh top management. Keputusan-keputusan yang diambil oleh middle level management tanpa mencoba ‘merasakan’ seperti apa menjadi pasien.