Halaman Muka

Kamis, 03 Mei 2012

Menjemput Surga

Oleh : Zaim Uchrowi
Wito namanya. Ia seorang yatim. Ayahnya meninggal saat ia masih di bangku Madrasah Ibtidaiyah. Sedih tentu. Tapi, ia dan keluarga bukan tipe manusia yang gampang patah. Ibunya pekerja keras, biasa membantu keluarga tetangga memasak untuk hajatan. Wito kecil itu juga seorang ulet. Ia bekerja keras membantu siapa pun sambil bersekolah. Lulus SMA swasta di kampungnya, ia hijrah ke Jakarta untuk 'ikut orang'. Ia bukan saja andalan keluarga yang diikutinya untuk tugas-tugas domestik, namun juga andalan masjid untuk menjaga kebersihan. Masih sempat pula ia kuliah. Meskipun dengan tertatih-tatih, ia mampu merampungkan kuliahnya. Sebuah bekal untuk memperoleh pekerjaan di sebuah kantor di Solo.

Di kantor itu, ia pekerja andalan. Ia sanggup mengerjakan tugas apa pun tanpa pilih-pilih. Kepala Bagian Umum menjadi tempat yang pas baginya, sampai kemudian perusahaan itu bangkrut. Ia harus kehilangan pekerjaan, saat sudah harus menanggung beban keluarga dengan satu anak. Limbung? Wito bukan seorang yang suka memikirkan nasib. Apalagi, meratapi dan mengasihani diri sendiri sebagaimana jutaan manusia lain. Ia memilih berbuat dan berbuat. Ia tahu persis bahwa perbuatanlah, dalam istilah agama adalah amal, yang akan dinilai di Hari Akhir nanti. Bukan pikiran, apalagi ratapan. Mushala kecil di sekitarnya ia rawat dengan baik. Anak-anak di sekitar itu diajarinya mengaji, tanpa bayaran sama sekali. Untuk penghidupannya sendiri, ia menyewa becak dari tetangganya. Tanpa ragu dan malu sama sekali serta tanpa mempersoalkan bahwa dirinya sarjana, ia menarik becak itu. Sebuah becak yang kemudian menjadi miliknya. 


Sang istri semestinya bisa membantunya. Tapi, kondisi fisik istrinya ternyata sangat lemah. Apalagi, saat istrinya hamil. Dengan riang hati, Wito menyampaikan pada istrinya untuk berhati-hati dan menjaga kesehatannya sendiri. Seluruh urusan pekerjaan rumah ia tangani sendiri pula. Seusai jamaah Subuh di mushala, ia akan masak untuk keluarga, mencuci pakaian, serta menyapu rumah dan halaman sekitar. Lalu, ia mandi dan menarik becak hingga sekitar pukul 10 pagi. Saat itulah ia akan membelokkan becaknya ke pasar untuk berbelanja kelapa.

Rahasia Air, Bagian I (Kristal Air)

Bagian pertama dari tiga tulisan

Pada malam ini saya teringat tentang suatu peristiwa beberapa tahun yang lalu yang cukup menarik untuk dicermati. Peristiwa yang tidak disengaja ini berawal dari  aktifitas saya selaku seorang detailler dari salah satu perusahan farmasi nasional di negeri ini. Pada saat itu, saya sempat memperhatikan seorang dokter senior di salah satu kota di pulau Jawa memberikan pesan kepada pasiennya. Pesan  atau konsultasi yang cukup wajar dari seorang dokter kepada pasiennya.

Namun dari ucapan dokter tersebut kepada pasiennya ada hal yang membuat saya tertarik. Dokter tersebut berkata : " .....Obatnya nanti diminum sampai habis ya Pa... sesuai resep. Dan jangan lupa, sebelum minum obat, baca do'a dahulu dengan keyakinan atau agama yang bapak yakini. Semoga lekas sembuh dan seringlah meminta kepada Yang Di Atas, karena hanya Dia yang dapat menyembuhkan...."

Pasien itu berlalu, dan saya dipersilahkan untuk menemui dokter tersebut. Setelah obrol sana obrol sini, Saya menanyakan tentang hal yang baru saja saya dengar yang menurut saya cukup menarik. Beliau lalu menjawab : "....Sebagai manusia yang beragama, Kita ini lemah dan tidak punya kuasa. Hanya Tuhan yang punya kuasa segalanya termasuk dalam kesembuhan seseorang. Perlu juga Adik ketahui bahwa air juga memiliki great secret, coba Adik baca buku "The True Power of Water”, “The Hidden Massage of Water”, dan “The Secret Life of Water” karya Dr. Masaru Emoto......"

Selasa, 01 Mei 2012

dr. Budi, SpTB

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan postingan di halaman facebook dari seorang sahabat di sebuah kota di Jawa Barat, Subang tepatnya. Sahabat saya tersebut bernama drg. Ari  Heryadi. Beliau dahulu berdinas di RS PTPN Subang. Kirimannya berupa sebuah foto yang cukup unik dan menggelitik. 

Olala... ternyata sebuah foto tentang spanduk iklan milik Bpk. Budi yang berprofesi sebagai penjual jasa tambal ban di suatu kota di Jawa Barat. Kreatif, menarik dan menggelitik....
Spanduk yang ditampilkan cukup jelas dan  lengkap, termasuk "jam praktek" . Penempatannya pun di tempat yang strategis sehingga dapat dilihat dari berbagai arah.

Saya sempat berfikir bahwa ide yang kreatif memang menarik untuk dilihat dan disimak. Namun pada sisi yang lain foto tersebut juga memiliki makna yang cukup dalam. Meski gelar SpTB  tidak memiliki makna apapun dalam istilah akademis di fakultas kedokteran,  dari cara penulisannya, telah mengikuti kaidah penulisan gelar bagi para dokter yang telah menyelesaikan pendidikan dokter spesialis. 

Sabtu, 28 April 2012

Hutchinson–Gilford Progeria Syndrome

Progeria (juga dikenal dengan "Hutchinson–Gilford Progeria Syndrome", dan "Sindrom Progeria") adalah kondisi genetis yang sangat langka dimana gejala menyerupai aspek penuaan yang terjadi pada usia dini. Kata Progeria berasal dari bahasa Yunani, progeros, yang berarti penuaan dini. Kata Yunani pro berarti sebelum, sedangkan geras berarti usia tua. 

Kelainan ini memiliki insiden yang sangat rendah dan terjadi dalam satu per 8 juta kelahiran hidup. Mereka yang lahir dengan Progeria biasanya hidup sampai usia tiga belas tahun, meskipun telah banyak diketahui dari mereka ada yang hidup sampai usia belasan dan awal dua puluhan, dan sangat jarang yang mencapai usia empat puluhan. Ini adalah kondisi genetik yang terjadi sebagai mutasi baru (de novo), dan tidak biasanya diwariskan, walaupun ada yang diwariskan. 

Hal ini berbeda dengan sindrom yang lain namun mirip dan jarang terjadi, Dyskeratosis Congenita (DKC), yang diwariskan dan sering akan ditemukan beberapa kali dalam garis keluarga. Para ilmuwan sangat tertarik pada Progeria karena dapat mengungkapkan petunjuk tentang proses normal dari penuaan. 

"...Ssst Ada Upin dan Ipin...."

Beberapa waktu lalu ada istilah baru yang cukup populer di salah satu unit marketing di salah satu perusahaan farmasi. Istilah yang beredar adalah : " lagi ada tamu.. Si Upin dan Ipin...".  Sebuah nama yang cukup populer dikalangan anak-anak pemirsa film kartun di sebuah chanel televisi nasional.

Saya cukup tertarik mendengarnya dan mulai penasaran dengan nama tersebut. Sambil bekerja saya mulai mencari tahu siapakah mereka gerangan.  Olala... ternyata mereka adalah team internal audit perusahan tersebut.

Dari cerita-cerita unit marketing farmasi tersebut sepertinya tampak sibuk, tegang dan "dingin" mengenai kedatangan tamu "Upin dan Ipin". Namun ada juga yang santai dan tenang, bahkan ada yang berkelakar dengan berkomentar " bakal perbaikan gizi nich "..  

Bagi yang tampak tegang mereka berkomentar bahwa biasanya si " Upin dan Ipin " akan bergerak secara silent dan langsung membuka "front" tanpa konfirmasi tentang behind stories atas temuan di lapangan yang terjadi. 

Dan bagi yang santai mereka malah senang sekali karena mereka beranggapan akan ada temuan baru yang membawa kepada perbaikan yang lebih baik lagi.

“...Because I am a Men..."

At one time, there is a child enquire to his father, when without intending he see His Father is stroking his face , accompanied by voice cough him. That child ask to his father : “Father, why Father face which becoming seen fatigue?" That way question, when His Father at leisure in gallery. His father  answer : " Because I'm  a Men." That's His Father answer. That child say " I dont understand."

My Father

Without understanding because His Father answer making vexed him. His Father only smiling, then caressing of that child hair, continue to clap his shoulder, later; then His Father tell : " My child, you is true not yet understood about Men"  That way whisper His Father, making that child add muzziness.

Because is vexed, later; then that child draw near His Mother then enquire : " Mother why father face become seen fatigue? And likely Father become that way without there is sigh and feel pain?" His Mother answer: " My child, if a really holding responsible Men to that family it is true will that way" Only that answer of is The Mother. That Child even also later; then grow to become adult, but he just remain to be vexed.

Till one night, that child dream. In that dream impressing he hear very soft voice. And that heard words clearly in the reality an sentence network as his vexed feeling answer during the time.

Kamis, 26 April 2012

HIV Comes Of Age as Disease of Mid to Late Live

From the November/December ACP Internist, copyright © 2011 by the American College of Physicians
By Charlotte Huff
In some respects, the HIV clinic run by J. Michael Kilby, MD, FACP, is starting to look more like a clinic for older adults. Over 300 of the roughly 1,000 HIV patients treated at the Medical University of South Carolina in Charleston are at least 50 years old, said Dr. Kilby, who directs the division of infectious diseases there. Some of the patients have been diagnosed in midlife or beyond. In other circumstances, they've lived with the virus, sometimes at undetectable levels, for a decade or more.
HIV specialist Donna Sweet, MD, MACP, treats a pat...

HIV specialist Donna Sweet, MD, MACP, treats a patient with HIV. She hopes to boost the number of primary care physicians prepared to handle all medical issues, virus-related or not, for this group of patients. Photo courtesy of Kansas University School of Medicine

“So we are dealing with something that we weren't planning ahead for,” he said. “It's a happy dilemma to be in.”

More than 15 years after the first protease inhibitors were approved, revolutionizing HIV medicine and abruptly commuting many death sentences, the immune system disorder has morphed into a chronic condition. As a result, the medical issues involved have gotten both simpler and more complex for primary care physicians caring for patients who happen to have HIV.

To a large extent, the virus is easier than ever to control, particularly if it's diagnosed early and hasn't developed resistance. The latest first-line regimens require fewer pills, sometimes only taken once daily, and have limited side effects compared with prior generations of drugs, Dr. Kilby said. An HIV diagnosis these days triggers some of the same emotional and lifestyle challenges as, for example, a diagnosis of type 1 diabetes, he said.

It might require some time to absorb the news and perhaps incorporate the assistance of a support group. “But it doesn't mean it's time to make funeral preparations,” he said. “It means you have to commit to a lifetime of learning to manage your disease.”

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...