Aturan
tak tertulis yang berbunyi bekerja sebaik-baiknya, tidak usah banyak
omong, pasti boss tahu kerja keras kita dan penghargaan setimpal akan
didapat, tampaknya sudah nyaris usang. Sekarang ini justru fenomena
yang tampak adalah bahwa mereka yang pandai berkomunikasi, banyak kontak
ke segala penjuru di organisasi, serta pandai memikat hati banyak pihak
bisa lebih cepat melejit dibandingkan mereka yang tipe kutu buku namun
cenderung kuper. Walau contoh yang terakhir belum cukup komplit tanpa
ketrampilan teknis yang memang bisa diandalkan, namun mereka yang diam
seribu bahasa sudah pasti tenggelam dalam persaingan karir. Sebetulnya
bagaimana sih seluk-beluknya memasarkan diri di tempat kerja ?
Blog Inspiratif, Merubah Diri Lebih Positif, Motivasi,dan Pengembangan Diri Medical Representative
Senin, 05 Januari 2015
The Increasing of Level of Consciousness
By H.R. Sofuan M
Buku-buku seperti Alchemist dan Power of Now, menjadi bacaan yang
sangat digemari belakangan ini. Kedua buku tersebut pada mulanya kurang
diminati. Saat diluncurkan keduanya hanya terjual beberapa ratus
eksemplar saja. Bahkan buku Power of Now karangan Ekhardt Tolle, menurut
pengarangnya sendiri, saat pertama diluncurkan, tahun 1998, menyapa
pembacanya melalui mulut ke mulut dan Ekhardt mengantar sendiri beberapa
eksemplar bukunya ke toko-toko kecil di Vancouver, Kanada. Dan ketika
Oprah Winfrey terpengaruh oleh buku tersebut, pertumbuhan penjualannya
pun meledak.
Demikian juga buku Alchemistnya Paulo Coelho. Saat
pertama diluncurkan, sangat sepi peminat. Tapi sejak tahun 2003, buku
tersebut laris manis bak pisang goreng.
Selain kedua buku
tersebut, buku-buku lainnya seperti Journey of the Soul, Conversation
with God, dan sebagainya, yang berhubungan dengan masalah spiritualitas
dan tingkat kesadaran, juga menjadi buku-buku populer yang sangat
diminati.
Kedokteran : Profesi yang Mulia atau Industri Bidang Penyakit dan Penderitaan Pasien?
by Dr Tony Setiobudi BMedSci, MBBS, MRCS, MMed (Ortho), FRCS (Ortho)
Kedokteran muncul dari simpati primal manusia dengan manusia; dari keinginan untuk membantu mereka berkesedihan, berkebutuhan dan berpenyakit.
Banyak dokter memiliki hati yang baik. Ini tidak berarti bahwa semua dokter berhati baik. Beberapa dokter sudah tidak baik sejak awal. Beberapa dokter mulai dengan hati yang baik, tetapi berubah menjadi lebih buruk di perjalanan. Seperti di semua bidang, ada beberapa apel busuk (bad apples) di kedokteran juga. Ada yang tamak. Ada yang hatinya beku dan kehilangan sentuhan kemanusiaan.
William Osler, bapak kedokteran modern mengatakan dengan indah “Kedokteran muncul dari simpati primal manusia dengan manusia; dari keinginan untuk membantu mereka berkesedihan, berkebutuhan dan berpenyakit.”
Ketika kita melihat orang sakit dan menderitaan, adalah naluri manusia untuk menolong mereka. Jika kita melihat seorang anak jatuh di depan kita, kita akan dengan spontan ingin membantu dan menghibur anak itu. Kita tidak mengirim tagihan ke si orang tua untuk membayar layanan kita. Bahkan, jika si orang tua menawarkan bayaran, kita akan menolak. Beberapa dari kita malah tersinggung karena cinta-kasih kita tidak dapat diukur dengan uang.
Minggu, 07 Desember 2014
SELFIE LEADERSHIP STYLE
Catatan Ringan Taufikurrahman
![]() |
| Source: sidomi.com |
Mungkin banyak di antara Anda yang gemar ber-"Selfie" ria. Ketika Anda sedang merasa "good mood" untuk narsis berfoto diri, namun tak ada orang lain yang bisa dimintai tolong untuk memotret Anda, maka Anda bisa memotret diri Anda sendiri, dengan kamera handphone, webcam, ataupun piranti digital lainnya, lalu diposting di social media. Itulah yang saat ini sedang "ngetrend" dengan sebutan "Selfie".
Konon sebenarnya Selfie bukan fenomena baru. Menurut tulisan Ryan Grenoble di Huffington Post, dan juga catatan Jonathan Symcox di situs Mirror, "Selfie" pertama di dunia kemungkinan adalah potret diri Robert Cornelius pada tahun 1839. Namun trend Selfie ini mendadak sangat mewabah dan fenomenal sepanjang tahun tahun lalu, sehingga bahkan kata "Selfie" disebut sebagai "Word of the Year 2013" oleh Oxford English Dictionary.
Begitu ramai orang ber-Selfie ria di sosial media, mulai dari selebriti papan atas sampai orang biasa yang baru sekedar bermimpi menjadi selebriti. Bahkan jagat pemberitaan pernah "geger" ketika Obama tertangkap kamera sedang ber-Selfie ria bersama rekan sejawatnya, Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Perdana Menteri Denmark Helle Thorning Schmidt, ketika tengah menghadiri prosesi duka cita wafatnya mendiang Nelson Mandela.
Minggu, 02 November 2014
LEADER AND CHEERLEADER
![]() |
| Source: www.moviecricket.com |
Jika Anda penggemar serial televisi “HEROES”, yang pernah ditayangkan di NBC dan sempat sangat populer di kalangan pecinta film bergenre sains-fiksi-aksi beberapa tahun lalu, Anda mungkin masih ingat dengan tagline-nya yang amat terkenal dan unik, yaitu “Save the Cheerleader, Save the World.” Ketika pertama kali tayang di Indonesia, sebelum mengetahui jalan ceritanya, saya sempat heran dengan maksud tagline tersebut. Lha, apa hubungannya antara “Cheerleader” dengan para “Pahlawan” (Heroes)? Jaka Sembung pakai manik-manik, gak nyambung tapi unik. Setelah menonton, baru saya tahu, bahwa dalam film tersebut, si Cheerleader justru menjadi salah satu tokoh sentral di antara para tokoh “Pahlawan” lainnya.
Saya yakin Anda mafhum, bahwa dalam setiap pertandingan olahraga, peran para pendukung, baik supporter, cheerleaders, maupun fans, sangatlah penting. Tanpa penonton, pertandingan sepakbola akan terasa hampa dan aneh. Coba Anda bayangkan pertandingan El-Clasico antara Real Madrid vs Barcelona tanpa penonton. Atau pertandingan derby Manchester United vs Manchester City zonder penonton. Rasanya akan aneh, sepi, dan hampa, bukan? Suasananya akan lebih mirip latihan daripada pertandingan bola beneran.
Para “Pahlawan” atau Bintang sepakbola dengan skill luar biasa seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, dan Robin van Persie mungkin akan tetap dapat bermain bola dengan baik meski tanpa penonton, namun belum tentu akan bermain sama luar biasanya dengan jika mereka disupport oleh riuh rendahnya penonton dan para supporter fanatiknya di stadion. Karena energi penonton-lah yang membuat mereka mampu mengeksploitasi segenap kejeniusan dan kedashyatan bakat mereka bermain bola.
Ya, peran para pendukung, penyemangat, dan penggembira, baik berupa fans, penonton, supporter, tifosi, cheerleaders, pengikut, atau apapun namanya sangat penting untuk membangkitkan semangat juang para “bintang”, “pahlawan”, ataupun “pemimpin”. Bahkan seorang pelatih sepakbola yang angkuh dan “super-pede” seperti “The Special One” Jose Mourinho pun mengakui betapa dahsyatnya peran supporter, bahwa “passion” setiap supporter dan media sama pentingnya dengan para pemain, untuk membuat permainan sepakbola menjadi penuh gairah.
“…I think because of the passion of every English player and every English supporter, and every English journalist for the game, most of the game is played with passion…”, demikian kata Jose Mourinho ketika berbicara mengenai gegap-gempitanya sepakbola Inggris.
Minggu, 05 Oktober 2014
ENERGY, ENERGIZER, EDGE, dan EXECUTE
Catatan Ringan Taufikurrahman Taufik
![]() |
| Source: www.linkedin.com |
Pada suatu hari saya diundang untuk memberikan “Kuliah Umum” kepada ratusan adik-adik mahasiswa/mahasiswi di sebuah perguruan tinggi almamater saya tercinta. Esensinya adalah sekedar bagi-bagi “pengalaman” aktual mengenai praktik manajemen dan organisasi bisnis, bukan bagi-bagi “ilmu”, karena memang sebenarnya ilmu saya sama sekali belum semumpuni para dosen senior. Yang jelas, saya selalu senang diundang untuk "back to campus". Bagi saya, datang dan berbagi pengalaman dengan adik-adik mahasiswa/mahasiswi selalu merupakan kebahagiaan tersendiri sekaligus wujud kontribusi saya pada negeri, meski kecil-kecilan. Dan saya tidak pernah mau menerima fee ataupun honorarium, karena memang kegiatan seperti ini saya anggap sebagai "kerja bakti" untuk negeri. :)
Satu hal yang cukup mengejutkan sekaligus menyenangkan saya, ternyata adik-adik mahasiswa dan mahasiswi begitu antusias dan mengajukan sangat banyak pertanyaan-pertanyaan yang bagus dan bernas dalam sesi diskusi. Ratusan mahasiswa yang hadir serentak mengacungkan tangan begitu kesempatan bertanya dibuka. Luar biasa! Anak-anak kuliahan sekarang, meski baru semester kedua, ternyata sudah jauh lebih luas wawasannya dan sangat “haus” akan ilmu, tak malu-malu untuk bertanya. Mudah-mudahan, kelak mereka akan menjadi para pemimpin masa depan yang tak hanya berilmu dan skillful, namun juga bisa bersikap kritis.
SEMANGAT MELAYANI
Catatan Ringan Taufikurrahman Taufik
Siang itu saya diundang untuk bertemu eksekutif puncak sebuah perusahaan besar yang berminat untuk mengetahui lebih jauh mengenai berbagai produk dan solusi yang dapat disediakan oleh perusahaan kami. Beliau mengajak saya untuk lunch meeting di sebuah restoran. Karena khawatir terlambat, saya minta driver saya untuk parkir mobil di area SCBD, lalu saya melanjutkan perjalanan dengan menumpang Ojek meliuk-liuk membelah kemacetan. Tak apalah berpanas-panas, berkeringat, menembus polusi, dan berangin-angin ria naik ojek, karena bagi saya, ketepatan waktu adalah bagian dari "service excellence", layanan prima yang harus selalu saya usahakan untuk customer, bahkan meski baru "calon customer" sekalipun.
Bahkan pada berbagai kesempatan saya seringkali rela berjalan kaki sepanjang jalan Jendral Sudirman untuk mengejar waktu meeting dari gedung ke gedung, jika kebetulan lalu lintas sangat macet dan tak menemukan Ojek. Semuanya saya usahakan demi customer service excellence. Mungkin akan ada teman yang bertanya, "Pak Taufik, Anda kan Presiden Direktur perusahaan multinasional, lha kalau Anda datang ke meeting naik ojek, apakah Anda tidak malu gengsi Anda turun kalau terlihat oleh calon mitra bisnis?" Ah, bagi saya, bonafiditas itu tidak selalu harus dinilai dari penampakan. Akan jauh lebih tidak bergengsi lagi kalau sampai mengecewakan mitra bisnis karena datang terlambat ke lokasi meeting. Saya paham bahwa kebanyakan pebisnis biasanya punya jadwal meeting yang ketat dan padat, maka mereka sangat menghargai waktu. Maka berusaha tepat waktu adalah bagian dari upaya saya untuk selalu berkomitmen terhadap service excellence.
Langganan:
Postingan (Atom)






