Halaman Muka

Minggu, 17 Agustus 2014

Atasan Yang Selalu Diingat


by: Dadang Kadarusman


Gampang, kalau sekedar ingin menjadi atasan yang selalu diingat oleh anak buahnya. Secara naluriah, bawahan selalu ingat terhadap atasannya. Makanya, ada bawahan yang setiap pagi malas ngantor. Karena pagi itu dia teringat punya jadwal rapat dengan atasannya. Atau, karena dia harus mengirimkan laporan kepada atasannya. Atau, karena atasannya hari ini masuk kantor lagi setelah beberapa hari traveling. Ada juga anak buah yang selalu bersemangat, karena dia ingat jika atasannya akan selalu ada ketika dibutuhkan. Apa saja. Pokoknya, selalu ada alasan kenapa anak buah selalu ingat atasannya. Tantangannya adalah; bagaimana caranya membuat agar anah buah selalu mengingat hal-hal positif kita. Bukan yang sebaliknya.

Simple Ways To Look Smarter

by Ken Myers

Everybody wants to look smart. They want other people’s respect and admiration. They want to be looked up to. The only problem is that oftentimes people go about appearing smart in all the wrong ways. If you are not careful, instead of looking smart you can look cocky, arrogant, and foolish. However, there are a few simple ways to look smart without falling into those categories.

Minggu, 10 Agustus 2014

Siapa Yang Layak Menjadi Pemimpin?

by: Dadang Kadarusman

Source: www.barnesandnoble.com
Andaikan kita boleh bereksperimen. Menanyakan pertanyaan ini; “Siapakah Yang Layak Menjadi Pemimpin?” kepada sekelompok orang secara individual. Kemungkinan kita akan mendapatkan jawaban seperti ini: Saya, Gue, Ane. Atau Aku. Memang sih, jawaban itu tidak akan sedemikian vulgarnya. Namun, di kantor-kantor kita selalu bisa menemukan orang yang merasa dirinya lebih layak untuk dipromomosikan menduduki jabatan tinggi dibanding seseorang yang menurut pendapatnya ‘nggak pantes’, kan? Apalagi menjelang pemilu seperti saat ini. Lihatlah disepanjang jalan toll, setiap perempatan atau tikungan. Ada banyak foto orang-orang ‘asing’ yang merasa bahwa wajahnya harus dikenal. Alasannya ya itu tadi. Karena mereka merasa bahwa dirinyalah yang layak untuk menjadi pemimpin. Tapi, sebenarnya siapa sih yang bisa secara obyektif menentukan seseorang layak menjadi pemimpin atau tidak itu? Bukan dirinya sendiri.

How To Learn To Take Responsibility

by Daniel Adetunji

Source: edenchanges.wordpress com

Responsibility is the ability to respond and act accordingly. You must understand that leadership is responsibility. Often times, most folks want to attain a high position in their job or life, but they are not ready to take the responsibility that comes with it. 
Promotion comes with responsibility. If you don’t want to pay the price that comes with promotion, then don’t dream to be promoted.

”Ability” in the above context does not refer to authority or energy. Ok, let me explain so you understand what I’m saying.

Let’s say you come into your room or office and you notice a painting that was supposed to be hanging on the wall slumped; take immediate action to reposition it rightly. If you walk away ignoring the dissonance, it means you’re not showing any sign of responsibility. If you have this ” I don’t care” attitude, stop it because it won’t take you anywhere. 
Don’t delay your promotion with your lackadaisical attitude. Put it off. Embrace humility. Take up responsibilities. I mean, take up responsibilities even when you’re not asked to.

Minggu, 03 Agustus 2014

Tukang Traktir

by Dadang Kadarusman

Siapa sih yang tidak mau berteman dengan orang yang suka mentraktir? Kayaknya sih, semua orang suka sekali berteman dengan tukang traktir ya. Kita suka kepada orang yang mentraktir minuman di café. Kita suka kepada orang yang mengeluarkan dompet untuk makan siang kita. Tentu kita juga suka sekali kepada orang yang membayari tiket nonton konser. Pokoknya, kalau pergi sama dia; dijamin seru deh. Itulah sebabnya, orang yang suka mentraktir orang lain selalu mempunyai banyak teman, iya kan? Pertanyaannya kemudian adalah; apakah orang yang suka mentraktir kita itu benar-benar mempunyai uang lebih banyak dari kita yang hobby sekali nebeng ini? Coba renungkan sekali lagi; apakah Anda yakin jika orang yang selalu Anda harapkan untuk mentraktir itu punya uang lebih banyak dari Anda?

How Passion Makes The Impossible Possible

by Scott Addis

Industry consultants spend a lot of time trying to understand people’s performance.  This includes, but is not limited to, an analysis of prospecting, sales skills, customer relationship management and differentiated business development initiatives.  The consultant’s performance indicators focus upon a host of quantifiable measures including the number of prospect calls, proposals, new business hit ratios and retention.

Business development performance can be enhanced through the strategies, activities and the measures listed above.  There is no question that a strategic business development plan, which incorporates a differentiated sales process, is essential.  However, what is often overlooked is a producer’s Emotional Energy – his or her Passion for the business.

Menjual Diri Kepada Anak Buah

by: Dadang Kadarusman

Soal ‘menjual diri’, tidak diragukan lagi jika konotasi kita sudah terbangun dengan baik, sehingga konteks yang ada didalam benak kita sudah langsung menuju kepada hal-hal positif. Kita, memang mesti pandai menjual diri. Agar keberadaan kita dihargai, kualitas kita diakui. Dan kepada kita diberikan kepercayaan yang selayaknya kita terima sebagai seorang pribadi yang berkualitas tinggi. Tapi… menjual diri kepada anak buah? Apakah tidak salah? Biasanya kan menjual diri itu kepada perusahaan atau pihak-pihak yang bisa mengambil keputusan. Tapi kepada anak buah. Haruskah kita menjual diri juga? Bagaimana menurut pendapat Anda?

The Voice. Anda tentu mengenal acara tivi spektakuler itu. Beda sekali gaya kompetisinya dibandingkan dengan reality show lainnya. Dalam The Voice, ada tahapan dimana ke-4 juri berebut untuk mendapatkan talenta terbaik yang ada. Dan untuk mendapatkan talenta itu, mereka mesti menjual dirinya kepada sang talenta. Jika ada peserta yang bagus, tentu lebih dari satu juri yang menginginkannya masuk kedalam teamnya. Namun itu juga berarti bahwa para juri itu mesti bersaing satu sama lain agar sang talenta memilih dirinya sebagai pelatihnya. Bayangkan. Bukan pelatih yang memilih murid. Tapi murid yang memilih pelatih. Dalam kondisi tertentu, murid menolak gurunya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...