Halaman Muka

Jumat, 08 Juni 2012

Success Can Lead to Arrogance...!??!!#!!

Tidak ada masyarakat dimana pun juga dapat menerima seorang yang gagal maka Anda tidak perlu berharap ada orang yang dapat menghargai Anda apalagi menghadiahi produk kegagalan Anda. Masyarakat lebih menghargai seorang yang sukses dan melupakan seorang yang gagal. Dalam setiap orang , kesuksesan berarti ia telah berhasil mengatasi masalah keuangan, promosi kerja, membina keluarga dan status sosial yang meningkat. Bila Anda termasuk orang yang gagal, maka tidak ada seorang pun dapat memahami kegagalan Anda, bahkan mereka menghukum Anda .
Setiap individu yang "normal", pasti mendambakan kesuksesan dalam hidup. Dan setiap individu yang berharap akan perubahan "hidup" menjadi lebih baik dari sebelumnya, pasti ingin merasakan kesuksesan. Upaya yang keras, smart dan pengorbanan adalah syarat mutlak dalam mencapai kesuksesan. Resiko yang harus ditempuh untuk mencapai sukses biasanya tidak setiap orang bersedia dan mampu untuk menghadapinya. Atau dengan kata lain, ingin sukses namun tanpa upaya, resiko dan pengorbanan yang harus ditanggung. 

Senin, 04 Juni 2012

Are You Happy With Your Live (and your job) Now..?

By Yodhia Antariksa, Msc

Photo credit by Rusty Brick under creative commons license
Hidup pada akhirnya memang selalu penuh dengan tikungan. Ada kalanya kita berada pada parade keberhasilan yang membuat kita mabuk dalam ekstase keriangan. Ada pula saat ketika kita terpeleset, terpelanting dan terpuruk dalam segores duka. Toh dalam lingkaran jatuh dan bangun itu, hidup harus terus dijalankan. Kita terus berproses dan bertumbuh “menjadi manusia”. Becoming a true person, demikian Erich Fromm pernah berujar dalam risalahnya yang terkenal itu, On Being Human.

Namun mungkin ada kalanya kita perlu berhenti sejenak, mengambil rehat, dan melakukan kontemplasi. Sekarang tataplah screen (layar) laptop atau komputer Anda. Lihatlah screen yang ada di depan Anda ini sebagai sebuah cermin…..lalu bayangkanlah, kira-kira lima tahun dari sekarang, potret apa yang tergambar dalam layar di depan Anda ini. 

Apakah yang tergambar dalam bayangan itu adalah figur Anda sebagai seorang saudagar sukses dengan omzet bisnis ratusan juta per bulan, dengan sebuah apartemen indah di Dharmawangsa Residence? Atau yang muncul adalah gambaran Anda sebagai seorang manajer sukses bergaji 30 juta perbulan, dengan sebuah SUV nongkrong di garasi rumah? Atau yang justru tergambar di layar adalah gambaran Anda sebagai seorang guru mengaji di sebuah surau kecil di kampung halaman Anda, nun jauh disana, di sebuah kampung dimana segenap ambisi materi dan duniawi menjadi lenyap, karena disitu yang ada hanyalah “keheningan, kedamaian dan kebersahajaan”?

Minggu, 03 Juni 2012

Secangkir Air Teh Yang Luber

By Admin

Peristiwa ini terjadi setelah beberapa pekan dari kejadian yang mungkin kini telah dilupakan oleh masyarakat saat ini. Tepatnya tanggal 27 Juli 1996, ya... tragedi perebutan kantor Partai Demokrasi Indonesia diantara dua kubu yang bertikai pasca kongres partai. Terlepas dari ada atau tidaknya "invisible hand" dalam peristiwa itu, kondisi Indonesia menjadi berubah drastis menjadi lebih "genting" dari pada biasanya. Kondisi emergensi / siaga satu juga dilakukan para aktivis kampus pada masa tersebut. Hal ini terkait dengan adanya kabar bahwa terjadi penangkapan oleh aparat terhadap para aktivis kampus di seluruh Indonesia. 

Sabtu, 02 Juni 2012

Kisah Sebungkus "Supermi"

Tiga Puluh Tahun Yang Lalu

Sarimi dewasa kini (Indofood.com)
Saat ini beragam merek mie instan telah banyak ditemukan. Harganya pun bervariasi serta terjangkau bagi semua kalangan. Beraneka ragam rasa, bentuk dan cara penyajian telah tersedia. Keberadaanya pun mudah ditemukan, dari super market, midi market, mini market, pasar modern dan pasar tradisional bahkan warung kecil sekalipun menyediakannya. Mie instan saat ini juga bukanlah makanan yang luar biasa. Yang pasti di era 90-an, mie instan adalah makanan khas para mahasiswa yang mendapat kiriman orang tua sebesar 20, (dua puluh koma). Ya... di tanggal 20 setiap bulannya mereka koma... he..he..he.. 

Di era tersebut para rekan pramuka (pandu) dan rekan-rekan pencinta alam menjadikan mie instan bahan pokok wajib dibawa dalam setiap kegiatan di lapangan seperti perkemahan dan pendakian gunung. Ada kenikmatan tersendiri bila menikmati mie instan dan bahan makanan tambahan lainnya, bila dimasak dengan kompor parafin. Dinginnya cuaca pada saat kegiatan lapangan dapat ter-hangat-i dengan hidangan mie instan yang terkadang dimasak setengah matang karena keterbatasan parafin. Kenikmatan tersebut dituntaskan dengan minuman penutup berupa kopi hangat atau teh hangat. Hmmm... jadi ingat masa lalu nich... 

Saving Earth By Paper

Beberapa tahun yang lalu, di tempat Saya bekerja, ada seorang sekretaris yang sangat perfeksionis. Selain perfeksionis, dia terampil dan cekatan dalam mengerjakan semua tugas kantor. Kami semua di kantor merasa segan dan hormat kepada beliau. Dia juga sangat perhatian terhadap semua kebutuhan team dalam menjalankan tugasnya. Terkadang, ketika menghadap beliau, sebelum mengutarakan maksud dan tujuannya, beliau sudah berkata : " Ada Apa...?"  Hmmm... memang perlu nyali yang "kuat" untuk bertemu dengannya. (Saat ini, beliau telah resign dan fokus sebagai manager rumah tangga).

Salah satu kebiasaan beliau adalah sangat hemat dalam penggunaan kertas kerja. Kertas kerja yang telah dipakai, dia kumpulkan untuk digunakan kembali pada halaman sebaliknya. Demikian juga dengan amplop surat, amplop surat bekas yang masih layak digunakan dan dalam kondisi yang baik, dia gunakan kembali. Semua kertas yang masih dapat digunakan, pasti diberdayakan kembali. Kita semua sempat ngerumpi : " pelit amat sich pake kertas baru...!@!#@!!" , "Atau barangkali instruksi si Boss agar expense / biaya fixed cost tidak gede..." dan lain sebagainya. Ketika Kami tanyakan kepadanya, dia menjawab: " ...Biar hemat tau...!@!#@!" dan ditambah kultum tentang hemat. Namun kultum disini artinya kuliah tulung-tulung...he..he..he..

An Amazing Girl : Qian Hong Yan

Qian Hong Yan
Pernahkah kita melihat anak kecil belajar berjalan... ? Dia sering terjatuh, lalu menangis... namun dia bangkit kembali dengan tanpa beban untuk belajar berjalan lagi dan terjatuh lagi dan menangis lagi... Dan terus berulang kali hingga dia dapat berjalan lancar. Atau mungkin Kita ingat  ketika kecil bahwa Kita dahulu sempat belajar naik sepeda. Jatuh berulang kali bahkan terluka karenanya. Namun pada saat itu terus mencoba berulangkali hingga dapat mengendarai sepeda. Ya..... Kita punya keinginan kuat untuk terus berusaha mencoba dengan tanpa beban ketika kecil. Kita pada saat ini  memang kadang perlu untuk belajar dari seorang bocah.

Dan, semangat ala bocah inilah yang mampu menjadi “bara api” yang terus menyala di tengah gelapnya malam dan kerasnya ujian hidup bagi sesosok anak berusia belasan tahun dari negeri China, Qian Hong Yan seorang bocah cilik dari Zhuangxia. Ujian yang menimpa Qian memang sangat berat. Betapa tidak, di usianya yang masih sangat dini (di usia tiga tahun,  pada bulan Oktober 2000) Qian mengalami kecelakaan fatal yang mengakibatkan separuh tubuhnya hingga batas pinggang harus diamputasi.


Tubagus Ismail : Demi Idealisme Menjadi Penjual Es Tebu Keliling

Jawapos – Metropolis – Sabtu, 3 September 2011
Inspirasi

Tak banyak orang seperti Tubagus Muhammad Ismail. Ketika ditulis Jawa Pos pada akhir 2009, statusnya masih tukang tebu keliling di kompleks Griya Wage Asri, Taman, Sidoarjo. Rombong es tebu itu dikerumuni ibu-ibu muda ketika melintas di kawasan Wage, Sidoarjo. Tawa riang dan canda mereka berbaur dengan suara anak-anak yang berebut membeli. Susana itu hampir terjadi tiap hari pukul 15.00-17.00.

Itulah rutinitas Tubagus Muhammad Ismail menjajakan es tebunya di kawasan tersebut. Pria 39 tahun itu berbeda dari penjual es tebu lain. Penampilannya rapi, bersih, pakaian necis, dan wangi. Dengan tinggi badan sekitar 170 cm, kulit putih, paras tampan, pria berdarah Banten-Sunda-Padang itu jauh dari mainstream penjual es tebu keliling.

Karena itu, tak heran Ismail merupakan tukang tebu favorit -setidaknya- di kawasan Wage. Seorang warga perumahan bahkan menjuluki Ismail sebagai tukang tebu terganteng se-Asia Tenggara.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...