Halaman Muka

Sabtu, 12 Mei 2012

"... Punya Duit, Maka Aku Bahagia ?..."

“Uang tidak bisa membeli kebahagiaan” merupakan kebenaran yang sering disebutkan. Walaupun pernyataan itu benar, kemiskinan juga tidak akan mampu membeli kebahagiaan. Beberapa orang menjadi sangat kaya, tapi mereka tetap harus berjuang untuk menikmati kehidupan mereka. Di sisi lainnya, orang lain mampu melewati hidup dengan sedikit masalah keuangan hanya karena mereka mampu mengoptimalkan apa yang mereka miliki bahkan dapat berbagi pada sesama.

Idealnya, Kita harus mencoba untuk menggabungkan antara kemakmuran dan kebahagiaan. Untuk melakukan itu, ada beberapa langkah yang dapat direkomendasikan :


Difficult Diagnostic

By J.E. Block M.D., PhD, FACP
 
An example of a difficult diagnostic dilemma is Lectin Intolerance. Lectin not to be confused with Leptin or Lecithin)occur ubiquitously in nature. They are sugar-binding proteins in both animal and plants. The prototypic lectin is GLUTEN. Lectins aggregates to the cell walls of other plants (bacteria) and our own cells. Medical science is just beginning to understand Lectin physiology and pathology. We naturally consume Lectins in our food. They play a helpful role in the expulsion from our body of harmful bacteria. Lectins and particularly gluten in people who are genetically predisposed who consume them suffer damage to the delicate intestinal lining (the microvilli). This negatively influence gut permeability (leaky gut) and digestion. Lectins are capable of being actively endocytosed (transported) across the intestinal membranes into the general circulation where they may attach to other tissues (connective, nervous, bladder) causing immune dysfunction and systemic inflammation. Lectins play a role in biological recognition involving cells and proteins in animals as well as plants.

They were first discovered by Peter Hermann Stillmark in 1888 initially isolated ricin, an extremely toxic hemaglutinin, from seeds of the castor plant.  The word “Lectin” comes from the Latin phrase, “I choose,” a fitting phrase since Lectins are very specific as to what they chose to bind. Most Lectins are non-enzymatic in action and non-immune in origin. They functions in humans in other ways than the regulation of cell adhesion. These molecules control some of our circulating  proteins and antibodies levels. That can cause problems in those of us that genetically predisposed ! Additionally in the intestine it could help in recognizing carbohydrates that are found exclusively on pathogens and target their destruction, or play havoc  if the target is on friendly bacteria or our intestinal lining.

Susah Tidur Di Malam hari

Di era informasi ini dunia berjalan sangat cepat.  Keadaan itu secara tidak langsung merubah prilaku manusia yang menjalaninya. Kita merasakan bahwa tuntutan-tuntutan dalam hidup semakin bertambah. Tuntutan  dan tekanan dalam lingkungan, pergaulan, pekerjaan dan lain sebagainya  terkadang  dapat menyebabkan seseorang mengalami  kesulitan tidur di waktu malam. Pada malam  hari, tubuh manusia mengeluarkan hormon  melatonin yang memerintahkan tubuh untuk beristirahat. Namun karena berbagai hal tersebut di atas tubuh manusia tidak dapat beristirahat di waktu malam, dan para pakar medis menyebutnya insomania.

Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu. Gejala tersebut biasanya diikuti gangguan fungsional saat bangun. Insomnia sering disebabkan oleh adanya suatu penyakit atau akibat adanya permasalahan psikologis. Dalam hal ini, bantuan medis atau psikologis akan diperlukan.



Jumat, 11 Mei 2012

Memberi Ketika Tidak Berdaya

by Rhenald Kasali

Bisakah orang miskin memberi ?
Banyak orang yang saat ini berpikir dirinya harus kaya lebih dulu untuk bisa membantu orang lain. Orang-orang seperti ini menunda perbuatan baik, menunggu sampai saatnya tiba. Padahal bagi orang yang menerima, orang kaya memberi adalah biasa sekali. Pemberian yang paling indah justru adalah pemberian yang datang dari orang-orang yang susah.

Di Banda Aceh saya menemukan banyak orang yang tetap merasa susah dan hidupnya tetap tertekan kendati rumah-rumah mereka sudah lebih baru. Jalan-jalan beraspal kokoh telah terbangun, kedai-kedai kopi di Ulee Kareng telah kembali ramai dan roda ekonomi telah kembali berputar. Selain sulit menghilangkan trauma dan kesedihan yang mendalam akibat tsunami, kadang saya berpikir mungkin karena bantuan-bantuan yang mereka terima datang dari negara-negara kaya.

 
Tetapi di sebuah pesantren yang miskin di Jawa Timur saya menemukan anak-anak korban Tsunami Aceh yang hidup bahagia, meski mereka dipelihara oleh santri-santri yang tidak kaya. Kemungkinan besar mereka merasakan ketulusan dan rasa persaudaraan. Bukan sekedar pemberian.

Bukalah Pikiranmu

 By Rhenald Kasali

SUATU ketika seorang mahasiswa tingkat undergraduate mengetuk ruang kerja saya di Bevier Hall– University of Illinois, Amerika Serikat (AS). Sebagai teaching assistant di kampus itu, saya bertugas menggantikan seorang profesor yang mengajar mata kuliah consumer economics. Selain mengajar, saya juga membuat sebagian soal ujian dan memeriksanya. Dengan mimik penuh percaya diri, dia menyampaikan masalahnya. Dia menunjuk lembar jawaban soal yang terdiri atas pilihan berganda (multiple choice) yang baru saja dia terima. Nilai yang dia dapat tidak terlalu jelek,tetapi dia kurang puas dan mengajak saya berdiskusi, khusus pada sebuah soal yang dianggapnya terbuka untuk didiskusikan. Setelah membacanya kembali, tiba-tiba saya tersadar, soalnya memang konyol sekali.

Pertanyaannya kurang lebih seperti ini. "Berapa lama rata-rata rumah tangga menggunakan handuk mandi?" Tentu saja setiap orang punya jawaban yang berbeda-beda. Namun karena mata kuliah ini didasarkan atas hasil riset, maka mahasiswa harus menguasai dasar dasar perilaku konsumen yang datanya diperoleh secara riil dari riset. Jawabannya semua ada di buku teks. Jadi kalau buku dibaca atau bahan kuliah dipelototi, pasti mereka mudah menemukan jawabannya. Di buku teks jawaban tertulis, rata-rata rumah tangga mengonsumsi handuk selama delapan tahun. Dia memilih jawaban dua tahun.Tentu saja saya mencoretnya.

Bagi seorang guru, menemukan murid seperti ini mungkin biasa saja. Namun cerita berikut ini mungkin dapat mengubah pandangan Anda tentang cara mendidik atau bahkan membimbing orang lain, karyawan,atau bahkan diri sendiri agar berhasil dalam hidup. 


DP ----->MBA -----> ABORSI......???

Di sebuah portal berita yaitu tribunnews.com terdapat berita yang cukup menarik. Bunga (bukan nama sebenarnya), siswi kelas III salah satu SMA di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), terpaksa meminta bantuan kenalannya untuk membawanya dirawat di RSUD Umbu Rara Meha-Waingapu. Permintaan ini dilakukan karena tidak tahan dengan penyiksaan dan sikap keluarganya yang terus memaksanya melakukan aborsi. 

Kepada Pos Kupang yang menemuinya di RSUD Umbu Rara Meha-Waingapu, Selasa (27/3/2012), Bunga mengatakan, sudah sebulan ini ia dipaksa keluarganya melakukan aborsi terhadap kandungannya, baik dengan mengurut sendiri maupun melalui dukun. Namun upaya yang dilakukan selalu gagal. Pihak keluarga, kata Bunga, memaksanya melakukan aborsi karena ia hamil di luar nikah.

Diperagakan oleh model
Dewasa ini, terkadang aborsi menjadi "the final solution" atas kehamilan yang tidak dikehendaki. Aborsi yang dilakukan tidak mengenal startifikasi sosial para pelakunya. Aborsi dilakukan oleh para pelaku dengan berbagai alasan dan latar belakang terjadinya kehamilan. Ada yang bermotif sosial ekonomi, mengejar karier, budaya dan lain sebagainya. Namun yang benar menurut hemat saya, aborsi yang benar dilakukan adalah atas dasar medis. Lalu sudahkah kita mengenal tentang aborsi itu sendiri....?

Aborsi (gugur kandungan) adalah berhentinya kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang mengakibatkan kematian janin. Apabila janin lahir selamat (hidup) sebelum 38 minggu namun setelah 20 minggu, maka istilahnya adalah kelahiran prematur. Dalam ilmu kedokteran, terdapat berbagai jenis aborsi: 
  1. Spontaneous Abortion: gugur kandungan yang disebabkan oleh trauma kecelakaan atau sebab-sebab alami. 
  2. Induced Abortion atau Procured Abortion: pengguguran kandungan yang disengaja. Termasuk di dalamnya adalah: 
  • Therapeutic Abortion: pengguguran yang dilakukan karena kehamilan tersebut mengancam  kesehatan jasmani atau rohani sang ibu, terkadang dilakukan sesudah pemerkosaan.
  • Eugenic Abortion: pengguguran yang dilakukan terhadap janin yang cacat. 
  • Elective Abortion: pengguguran yang dilakukan untuk alasan-alasan lain. 

Kamis, 10 Mei 2012

Drawing Test Can Predict Stroke Death

(By Ingrid Torjesen)

A simple drawing test can predict the long-term risk of dying after a first stroke among older men, according to research published in the online journal BMJ Open.

Despite treatment advances, stroke is still a leading cause of death and disability, with older age and impaired cognitive function before a stroke associated with higher risks of death and disability afterwards.

The researchers wanted to see if there was a reliable way of finding out who might be most at risk of a stroke death, based on cognitive function, so they analysed data from the Uppsala Longitudinal Study of Adult Men, which has been looking at different risk factors for heart disease and stroke in 2,322 men since the age of 50.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...