Halaman Muka

Kamis, 10 Mei 2012

Mengapa Menjadi Orang Yang Sombong....??

"Koboi Palmerah"
Beberapa waktu lalu, ramai dibicarakan tentang adanya tindakan berlebihan dari seorang anak manusia. Di beberapa media bahkan menjulukinya "koboi palmerah", merujuk tempat kejadian perkara di jalan Palmerah, Jakarta.

Terlepas dari latar belakang situasi penyebab kejadian tersebut, rasanya kejadian "koboi palmerah" dapat dijadikan cermin diri agar kita tidak menjadi orang yang arogan dan sombong.

Kadang kala "kesombongan" dapat timbul karena adanya "power" yang dimiliki seseorang. "Power" tersebut dapat berupa harta, jabatan, bidang keilmuaan yang dikuasai, dan lain sebagainya.

Saya jadi teringat ucapan aktor Al Pacino yang berperan sebagai advocat jelmaan lucifier dalam film Devil Advocat, "Saya suka sekali manusia yang sombong". Ya.. memang Lucifier / Iblis terusir dari syurga karena kesombongannya, dia merasa lebih mulia dari manusia.

Rabu, 09 Mei 2012

Karena Sebuah Informasi

Sore itu disebuah subway di kota New York, suasana cukup hening. Kereta api bawah tanah itu cukup padat oleh orang-orang yang baru pulang kerja. Tiba-tiba, suara hening terganggu oleh ulah dua orang bocah kecil berumur sekitar 3 dan 5 tahun yang berlarian kesana kemari. Mereka berdua mulai mengganggu penumpang lain.

Yang kecil mulai menarik-narik koran yang sedang dibaca oleh seorang penumpang, kadang merebut pena ataupun buku penumpang yang lain. Si kakak sengaja berlari dan menabrak kaki beberapa penumpang yang berdiri menggantung karena penuhnya gerbong itu. Beberapa penumpang mulai terganggu oleh ulah kedua bocah nakal itu, dan beberapa orang mulai menegur bapak dari kedua anak tersebut.

Pernikahan yang Akrab

(Oleh : Zaim Uchrowi)

Baru-baru ini saya menghadiri pernikahan seorang kerabat. Pesta pernikahan itu biasa saja. Bukan di gedung besar. Bukan pula penuh pernak-pernik yang membuatnya megah. Sebaliknya, perhelatan itu justru dilakukan di rumah. Cukuplah tenda terpasang di halaman serta jalan buntu di depannya. Sebuah tenda biasa, dan bukan tenda paling megah, Makanan ditempatkan di meja sederhana bertaplak putih di garasi rumah itu.

Jumlah undangannya tidak banyak. Hanya kerabat dekat dan sahabat kedua mempelai yang hadir. Pembawa acara serta pembaca doa kerabat sendiri. Musik dimainkan oleh teman-teman pengantin. Tidak ada beragam upacara adat yang rumit yang mengiringi pernikahan itu. Pakaian serta tata rias pengantin juga biasa saja. Cuma sedikit lebih formal dibanding pada hari biasanya, namun cukup anggun untuk dipandang sebagai gambaran pernikahan.

Jumat, 04 Mei 2012

Impact of an Active Video Game on Healthy Children’s Physical Activity



AUTHORS: Tom Baranowski, PhD,a Dina Abdelsamad, BA,a Janice Baranowski, MPH, RD,a Teresia Margareta OConnor, MD, MPH,a Debbe Thompson, PhD, RD,a Anthony Barnett, PhD,b Ester Cerin, PhD,b and Tzu-An Chen, PhDa aChildrens Nutrition Research Center, Department of Pediatrics,Baylor College of Medicine, Houston, Texas; and bInstitute of Human Performance, University of Hong Kong, Hong Kong SAR


Although young childrenget reasonable amounts of physical activity (PA), levelsof PA decline throughout childhood,1 dropping well below recommendedlevels.24 The risk of being an obese adult from being obese as a child increases enormously at 10 years ofage,5 suggesting that 10 years of age isa critical period for increasing PA toprevent child and adult obesity.

Laboratory studies have demonstrated that the right person can engage inmoderate (3+ metabolic equivalents),6,7 and even vigorous (6+ metabolic equivalents),8 levels of PA with active videogames. Among studies under morenaturalistic circumstances, 2 studiesshowed some increase in PA from active video games,9,10 one showed a small change in adiposity, but not activity,11 and a fourth showed no changes.12 An experimental design with randomization is needed, addressing the duration of how long increased PA was sustained with the use of objective measures.13

The present randomized trial assessed whether 9- to 12-year-old childrenwould increase their level of PA,measuredwith accelerometry, with the acquisition of a new (to them)Wii console and a choice of 2 (of 5) active video games with all necessary peripherals, compared with children receiving a new Wii console and choice of 2 (out of 5) inactive video games and all the necessary peripherals. The hypothesis was that children receiving the active video games would increase their levels of PA.

Kamis, 03 Mei 2012

Menjemput Surga

Oleh : Zaim Uchrowi
Wito namanya. Ia seorang yatim. Ayahnya meninggal saat ia masih di bangku Madrasah Ibtidaiyah. Sedih tentu. Tapi, ia dan keluarga bukan tipe manusia yang gampang patah. Ibunya pekerja keras, biasa membantu keluarga tetangga memasak untuk hajatan. Wito kecil itu juga seorang ulet. Ia bekerja keras membantu siapa pun sambil bersekolah. Lulus SMA swasta di kampungnya, ia hijrah ke Jakarta untuk 'ikut orang'. Ia bukan saja andalan keluarga yang diikutinya untuk tugas-tugas domestik, namun juga andalan masjid untuk menjaga kebersihan. Masih sempat pula ia kuliah. Meskipun dengan tertatih-tatih, ia mampu merampungkan kuliahnya. Sebuah bekal untuk memperoleh pekerjaan di sebuah kantor di Solo.

Di kantor itu, ia pekerja andalan. Ia sanggup mengerjakan tugas apa pun tanpa pilih-pilih. Kepala Bagian Umum menjadi tempat yang pas baginya, sampai kemudian perusahaan itu bangkrut. Ia harus kehilangan pekerjaan, saat sudah harus menanggung beban keluarga dengan satu anak. Limbung? Wito bukan seorang yang suka memikirkan nasib. Apalagi, meratapi dan mengasihani diri sendiri sebagaimana jutaan manusia lain. Ia memilih berbuat dan berbuat. Ia tahu persis bahwa perbuatanlah, dalam istilah agama adalah amal, yang akan dinilai di Hari Akhir nanti. Bukan pikiran, apalagi ratapan. Mushala kecil di sekitarnya ia rawat dengan baik. Anak-anak di sekitar itu diajarinya mengaji, tanpa bayaran sama sekali. Untuk penghidupannya sendiri, ia menyewa becak dari tetangganya. Tanpa ragu dan malu sama sekali serta tanpa mempersoalkan bahwa dirinya sarjana, ia menarik becak itu. Sebuah becak yang kemudian menjadi miliknya. 


Sang istri semestinya bisa membantunya. Tapi, kondisi fisik istrinya ternyata sangat lemah. Apalagi, saat istrinya hamil. Dengan riang hati, Wito menyampaikan pada istrinya untuk berhati-hati dan menjaga kesehatannya sendiri. Seluruh urusan pekerjaan rumah ia tangani sendiri pula. Seusai jamaah Subuh di mushala, ia akan masak untuk keluarga, mencuci pakaian, serta menyapu rumah dan halaman sekitar. Lalu, ia mandi dan menarik becak hingga sekitar pukul 10 pagi. Saat itulah ia akan membelokkan becaknya ke pasar untuk berbelanja kelapa.

Rahasia Air, Bagian I (Kristal Air)

Bagian pertama dari tiga tulisan

Pada malam ini saya teringat tentang suatu peristiwa beberapa tahun yang lalu yang cukup menarik untuk dicermati. Peristiwa yang tidak disengaja ini berawal dari  aktifitas saya selaku seorang detailler dari salah satu perusahan farmasi nasional di negeri ini. Pada saat itu, saya sempat memperhatikan seorang dokter senior di salah satu kota di pulau Jawa memberikan pesan kepada pasiennya. Pesan  atau konsultasi yang cukup wajar dari seorang dokter kepada pasiennya.

Namun dari ucapan dokter tersebut kepada pasiennya ada hal yang membuat saya tertarik. Dokter tersebut berkata : " .....Obatnya nanti diminum sampai habis ya Pa... sesuai resep. Dan jangan lupa, sebelum minum obat, baca do'a dahulu dengan keyakinan atau agama yang bapak yakini. Semoga lekas sembuh dan seringlah meminta kepada Yang Di Atas, karena hanya Dia yang dapat menyembuhkan...."

Pasien itu berlalu, dan saya dipersilahkan untuk menemui dokter tersebut. Setelah obrol sana obrol sini, Saya menanyakan tentang hal yang baru saja saya dengar yang menurut saya cukup menarik. Beliau lalu menjawab : "....Sebagai manusia yang beragama, Kita ini lemah dan tidak punya kuasa. Hanya Tuhan yang punya kuasa segalanya termasuk dalam kesembuhan seseorang. Perlu juga Adik ketahui bahwa air juga memiliki great secret, coba Adik baca buku "The True Power of Water”, “The Hidden Massage of Water”, dan “The Secret Life of Water” karya Dr. Masaru Emoto......"

Selasa, 01 Mei 2012

dr. Budi, SpTB

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan postingan di halaman facebook dari seorang sahabat di sebuah kota di Jawa Barat, Subang tepatnya. Sahabat saya tersebut bernama drg. Ari  Heryadi. Beliau dahulu berdinas di RS PTPN Subang. Kirimannya berupa sebuah foto yang cukup unik dan menggelitik. 

Olala... ternyata sebuah foto tentang spanduk iklan milik Bpk. Budi yang berprofesi sebagai penjual jasa tambal ban di suatu kota di Jawa Barat. Kreatif, menarik dan menggelitik....
Spanduk yang ditampilkan cukup jelas dan  lengkap, termasuk "jam praktek" . Penempatannya pun di tempat yang strategis sehingga dapat dilihat dari berbagai arah.

Saya sempat berfikir bahwa ide yang kreatif memang menarik untuk dilihat dan disimak. Namun pada sisi yang lain foto tersebut juga memiliki makna yang cukup dalam. Meski gelar SpTB  tidak memiliki makna apapun dalam istilah akademis di fakultas kedokteran,  dari cara penulisannya, telah mengikuti kaidah penulisan gelar bagi para dokter yang telah menyelesaikan pendidikan dokter spesialis. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...